Sabtu, 14 April 2018

MEAINA Berbagi Bahagia


KABUPATEN BEKASI -- PT. Mitsubishi Electric Automotive Indonesia, sebuah perusahaan produsen alternator dan motor starter terkemuka untuk industri otomotif di Indonesia, yang berlokasi di Kawasan Bekasi International Industrial Estate Blok C-11 No. 1-5, Jl. Raya Inti, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, memberi kepercayaan kepada Cahaya Foundation untuk menyalurkan dana CSRnya dalam bentuk program yang bernama MEAINA BERBAGI BAHAGIA, yang terfokus khusus di Kampung Darmajaya, Desa Setiadarma, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, pada tanggal 14 April 2018.

Kampung Darmajaya dipilih menjadi tempat kegiatan bakti sosial tahun ini, karena dari hasil survey lokasi, kampung tersebut sangat cocok untuk pemberdayaan warga dan pembentukan komunitas literasi; baik itu bagi masyarakatnya, penyediaan prasarana kegiatan rumah belajar, maupun penyediaan prasarana kegiatan kreatif lainnya, disamping lokasinya yang memiliki akses yang mudah dijangkau dari mana pun.

Kegiatan bakti sosial PT. Mitsubishi Electric Automotive Indonesia ini diikuti oleh 30 orang perwakilan karyawan perusahaan, yang berdiri pada tanggal 8 April 1997, yang dulunya bernama PT. Lippo Melco Autoparts. Selain para karyawan, turut serta pula Mr. Funaki dan Mr. Bamba selaku Dewan Direksi, serta Ibu Marlia Adityawati selaku Human Resources & General Affair Manager.

Kegiatan yang terpusat di Masjid Al Mujahiddin, Desa Setiadarma, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi ini meliputi; peresmian perpustakaan anak-anak Desa Setiadarma, sumbangan 845 buah buku bacaan anak-anak lengkap dengan sarana penunjang perpustakaan, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga tidak mampu, pemberian bingkisan langsung ke rumah-rumah keluarga dhuafa, pemberian peralatan sekolah bagi 100 anak binaan Masjid Al Mujahiddin, yang kesemuanya terdata dalam survey yang telah dilakukan sebelumnya, serta sumbangan 4 buah kursi roda, tabung oksigen berikut kelengkapan peralatan kesehatan untuk menunjang fasilitas mobil ambulance Cahaya Foundation, dan mendukung secara penuh program Jum’at Berkah (Berbagi Kebahagian) Cahaya Foundation, yaitu program pemberian makanan bagi dhuafa yang dilakukan setiap hari Jum’at, selama satu tahun.


Program MEAINA BERBAGI BAHAGIA melalui dana CSR PT. Mitsubishi Electric Automotive Indonesia ini merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian sebuah perusahaan yang profit oriented dalam mendukung kemajuan pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di Kampung Darmajaya, Desa Setiadarma, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

“Semoga sumbangsih kami hari ini dapat bermanfaat, terutama dalam mengembangkan budaya literasi dan peningkatan kualitas sumber daya masyarakat di desa ini”, ujar Ibu Marlia, yang pada kesempatan itu mewakili Mr. Motojima, Direktur Utama PT. MEAINA, untuk memberikan sambutan.

Eko Prasetyo, Direktur Eksekutif Cahaya Foundation, menambahkan, “PT MEAINA mendukung dan membersamai secara penuh semua program Cahaya Foundation selama satu tahun, yang terangkum dalam konsep program Merajut Harapan Indonesia, yang merupakan Program Pemberdayaan Cahaya Foundation yang diimplementasikan secara berkesinambungan, dengan tiga fokus program pada bidang: kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, sebagai upaya turut berperan aktif pada pencapaian Tujuan Pembanguan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia melalui pendekatan Pemberdayaan Masyarakat secara Terpadu.”

PT. Mitsubishi Electric Automotive Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan sosial lainnya secara rutin, sehingga dapat menjadi contoh bagi perusahaan lainnya dalam memajukan pendidikan, kesehatan masyarakat, maupun kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan, dan juga untuk membantu masyarakat tidak mampu agar dapat terus memperoleh manfaat dengan fasilitas yang layak dan memadai. (Cahaya Foundation / Bisot)

====================================

Link terkait:

http://www.redaksibekasi.com/2018/04/cahaya-foundation-dan-pt-meaina-gelar-bakti-sosial-kesehatan-dan-pendidikan.html

http://www.wajahbekasi.com/2018/04/baksos-csr-pt-mitsubishi-electric-automotive-gandeng-cahaya-foundation.html

http://www.bekasitoday.com/2018/04/csr-mitsubishi-electric-automotive-gandeng-cahaya-foundation-berikan-fasilitas-pendidikan-dan-pengobatan.html

http://fokusbekasi.com/mitsubishi-electric-salurkan-csr-dalam-baksos-meaina-berbagi-bahagia

http://fokus.co.id/news/2018/04/csr-mitsubishi-electric-dan-cahaya-foundation-gelar-edukasi-kesehatan-dan-baksos-pendidikan

https://www.atmago.com/posts/baksos-csr-mitsubishi-dan-cahaya-foundation_post_id_a7c0fb05-42b5-423c-83da-9bac9c4bdb94

https://www.plukme.com/post/1523793179-baksos-pendidikan-dan-edukasi-kesehatan-dalam-csr-pt-mitsubishi-electric-automotive-indonesia

https://indonesiana.tempo.co/read/125782/2018/04/15/bisot182/csr-mitsubishi-electric-dukung-budaya-literasi-dan-kesehatan

http://berita98.com/2018/04/15/csr-mitsubishi-electric-baksos-pendidikan-dan-kesehatan-di-bekasi

http://singkapbekasi.com/2018/04/csr-mitsubishi-electric-bersama-cahaya-foundation-baksos-pendidikan-dan-kesehatan

https://www.kompasiana.com/bisot/5ad3f636dcad5b56d1488b83/mitsubishi-electric-bersama-cahaya-foundation-baksos-kesehatan-dan-pendidikan

http://koransidak.co.id/2018/04/14/melalui-cahaya-foundation-pt-meaina-salurkan-bantuan

https://kumparan.com/bisot/melalui-cahaya-foundation-mitsubishi-electric-salurkan-csr-di-bekasi
Selengkapnya

Minggu, 01 April 2018

Pak Tatang, Hikmah Bertetangga




KOTA BEKASI -- Usia senja, sebagaimana lazimnya yang banyak kita saksikan dalam tayangan sinema elektronik atau film-film picisan yang bertebaran di bioskop-bioskop, biasanya banyak dihabiskan orang dengan berkegiatan ringan di rumah. Berkumpul dengan keluarga tercinta atau menjalani kegiatan kegemaran, seperti berkebun di pelataran, memelihara burung berkicau, dan sebagainya merupakan pilihan yang paling umum bagi sebagian lansia. Tetapi, hal itu tidak terjadi pada Bapak Tatang Ewod. Laki-laki renta berusia 68 tahun yang selama ini tinggal di petakan kecilnya di Kaliabang Nangka, Bekasi Utara, Kota Bekasi ini, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Demi untuk menghidupi dirinya sendiri, di usia senjanya, Pak Tatang masih harus mendorong becaknya kemana-mana. Berpuluh tahun ia hidup sendiri di tengah hiruk pikuknya Kota Bekasi, dengan jarak yang cukup jauh dari keluarga yang entah bagaimana kabarnya di kota asalnya, Majalengka. 

Namun, sejak 2 bulan terakhir, warga sekitar jarang ada yang melihat keberadaan Pak Tatang. Kakek yang baik hati dan dengan sukarela sering membantu membersihkan pekarangan rumah warga perumahan dekat kontrakannya, atau sering membantu memperbaiki sepeda anak-anak warga tanpa diminta, yang biasanya inisiatifnya itu tanpa pernah diberi imbalan, ternyata sakit cukup parah sehingga sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Selama sakitnya, hidupnya hanya mengandalkan bantuan w├árga sekitar kontrakannya. Beruntung, Pak Ade, pemilik kontrakan tempat Pak Tatang tinggal selama ini, walaupun sehari-hari berdagang ikan lele di pasar, memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Dengan telaten Pak Ade merawat dan mengurus Pak Tatang selama sakitnya. 

Warga perumahan tempat Pak Tatang biasa mangkal dengan becaknya bersegera bahu membahu membawa Pak Tatang ke salah sebuah Rumah Sakit swasta terdekat. Namun, karena Pak Tatang tidak memiliki jaminan pengobatan sama sekali, juga karena tidak ada keluarga yang bisa dijadikan sebagai jaminan, maka Pak Tatang dibawa pulang kembali setelah dirawat beberapa waktu. 

Sampai akhirnya Ibu Mardiana Sumanti, salah seorang warga di perumahan tersebut yang kebetulan mendapat informasi dari Pak Ade terkait kondisi Pak Tatang, berinisiatif menghubungi teman SMAnya yang kebetulan sebagai aktifis relawan di Cahaya Foundation pada Kamis malam, 29/3, yang selanjutnya komunikasi lebih intens dilakukan pada Jum'at pagi harinya, 30/3, dengan tim khusus pendamping pasien. 

"Assalamualaikum mba eka, maaf ganggu, dan salam kenal...saya dian, temen smanya vita (mas eko), mo info kan didepan komplek ada tukang beca yg lagi perlu pendampingan untuk perawatan, kira2 prosedur utk minta bantuan cahaya foundation gimana ya? Sebelumnya maaf, pagi2 sudah merepotkan", demikian kalimat awal komunikasi pada Jum'at pagi tersebut. Komunikasi selanjutnya, "Saya pribadi belum liat langsung mba, dpt info dr bang ade (blio tetangga kontrakan, profesinya jual lele dipasar), hr rabu krmn sempat dibawa warga ke rs anna, cm krn ngga ada keluarga yg bertanggung jawab, rs ngga mau ngerawat, cm diinfus lalu plng lagi. Diagnosanya katanya tbc n gula. Namanya pak tatang, usianya kurleb 60an semenjak fungsi matanya berkurang blio, kyk org putus asa, jd kl diajak ngurus dokumen, ngga mau, 'nanti kalo saya mati anyutin aja ke kali...', begitu cerita dr bang ade..." 

Komunikasi melalui tulisan dan kiriman foto pada aplikasi media sosial yang ada di perangkat seluler cukup membantu memberikan analisa mengenai tingkat kegawatan kondisi pasien sehingga diputuskan untuk sesegera mungkin dilakukan evakuasi, yang akhirnya pada sore harinya, pukul 17.10 WIB, proses evakuasi ke RSUD Kota Bekasi dilakukan. Pak Tatang diantar ke IGD RSUD Kota Bekasi, beberapa puluh menit kemudian mendapat perawatan di Ruang Mawar nomor 5, di Lantai 3 gedung tersebut. 

Keesokan harinya, hari Sabtu, banyak warga perumahan dekat kontrakan Pak Tatang yang datang menjenguk. Perilakunya yang sangat baik kepada warga sekitar kediaman dan tempatnya mangkal menarik becak sebagai mata pencahariannya, membuatnya disukai oleh banyak warga. Namun, kondisi Pak Tatang belum mengalami perubahan berarti, masih lemah seperti saat dievakuasi.

"Pak Tatang meninggal", begitu pesan singkat yang diterima di perangkat seluler pada Minggu siang, 1/4, tepat Pukul 12.30 WIB. Serentak tim pendamping pasien yang semula melakukan evakuasi, bergerak melakukan penjemputan dan proses administrasi pengambilan jenazah Pak Tatang di RSUD Kota Bekasi. Warga sekitar tempat kediaman Pak Tatang pun dihubungi dan segera bergerak bersama mengkondisikan segala hal untuk memberi penghormatan dan mengantarkan jenazah Pak Tatang ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Komunikasi terakhir ibu Mardiana menginformasikan, "alhamdulillah dimudahkan semua...uang takziyah yg dr bintang dpt 6 jutaan...bisa buat biaya pemakaman dan sebagian rencananya buat diinfakin atas nama alm". Informasi yang melegakan, mengharukan sekaligus membahagiakan untuk semua orang yang mendengarnya. Betapa sungguh, kesempitan dunia yang Pak Tatang miliki, ternyata justru dipermudah segalanya tanpa diduga-duga di akhir hidupnya. Mulai sejak proses evakuasi, hingga pemakamannya, semuanya berjalan dengan lancar, seperti tanpa kendala. Mungkin itulah hikmah dari perilaku baik terhadap semua warga sekitar rumahnya yang selama ini Pak Tatang lakukan. 

Dalam salah satu Hadits Shahih dari Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, diriwayatkan dari Mujahid bahwasannya Abdullah bin Amru beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘”. 
(Cahaya Foundation / Handika Puguh Pratama) 

#CahayaFoundation #WargaSalingBantu #PendampinganPasien #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia 




Selengkapnya

LAPORAN KEGIATAN PERIODE MARET 2018

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Salam takzim untuk Sahabat semua, semoga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari selalu diberikan SemangArt, kelancaran dan kemudahan.
Aamiin...

Berikut kami sampaikan Laporan Kegiatan Cahaya Foundation untuk Periode Bulan Maret 2018 yang secara bersama-sama kita telah melakukan banyak hal bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang layak dan berkeadilan di Bekasi dan Depok, sedekah nasi Jum'at Berkah, Garage Sale untuk mencari dana operasional kegiatan, Sosialisasi dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Penyaluran buku Iqro' untuk anak-anak madrasah di Ciamis, dan Penyaluran 100 buah majalah PAUD untuk bahan ajar dengan total manfaat senilai Rp. 81.270.000,-

Pada Periode Bulan Maret 2018 ini, sebanyak 5 kali sedekah nasi Jum'at Berkah, dan 55 kali pembelaan pendampingan pasien telah kita lakukan, yaitu di Bekasi 38 pasien dan di Depok 17 pasien, yang terdiri dari 48 kali pendampingan pasien rawat jalan dan 5 kali pendampingan pasien rawat inap, yang mana 3 orang pasien dampingan meninggal dunia.

Demikian penyampaian Laporan Kegiatan Periode Bulan Maret 2018. Terima kasih atas sepenuh do'a yang tercurah dan segala dukungan yang tak terhingga dari Sahabat sekalian.

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

#CahayaFoundation #LaporanKegiatan #PendampinganPasien #MajalahPAUD #RumahBelajar #Bekasi #Depok #Jabodetabek #Indonesia 


Selengkapnya

Kamis, 01 Maret 2018

LAPORAN KEGIATAN PERIODE PEBRUARI 2018

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Salam takzim untuk Sahabat semua, semoga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari selalu diberikan SemangArt, kelancaran dan kemudahan.
Aamiin...

Berikut kami sampaikan Laporan Kegiatan Cahaya Foundation untuk Periode Bulan Pebruari 2018 yang secara bersama-sama kita telah melakukan banyak hal bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang layak dan berkeadilan di Bekasi dan Depok, sedekah nasi Jum'at berbagi, dan 100 buah majalah PAUD untuk bahan ajar dengan total manfaat senilai Rp. 175.350.000,-

Pada Periode Bulan Pebruari 2018 ini, sebanyak 3 kali sedekah nasi, dan 44 kali pembelaan pendampingan pasien telah kita lakukan, yang terdiri dari 39 kali pendampingan pasien rawat jalan dan 5 kali pendampingan pasien rawat inap, yang mana 1 orang pasien dampingan meninggal dunia.

Demikian penyampaian Laporan Kegiatan Periode Bulan Pebruari 2018. Terima kasih atas sepenuh do'a yang tercurah dan segala dukungan yang tak terhingga dari Sahabat sekalian.

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

#CahayaFoundation #LaporanKegiatan #PendampinganPasien #MajalahPAUD #RumahBelajar #Bekasi #Depok #Jabodetabek #Indonesia 




Selengkapnya

Minggu, 04 Februari 2018

"Tercyduk Kampanye"

KOTA BEKASI -- "Ini dari partai apa mbak?", tanya seorang pengemudi transportasi umum roda tiga dengan cara dikayuh itu sesaat setelah menerima sepaket nasi kotak dari salah seorang relawan Cahaya Foundation. Pertanyaan yang cukup menggelitik di telinga namun membuat dahi agak sedikit berkerenyit. Setelah dipikir-pikir, iya juga ya... memang sekarang ini mulai banyak partai politik yang melakukan pemanasan dengan cara sosialisasi dan penjajakan menjelang pesta demokrasi pemilu 2019 nanti. Untungnya semua relawan tidak pernah menjawab semua pertanyaan sepatah kata pun, cukup dengan gerakan tubuh menggeleng dan tersenyum bersahabat.

Cahaya Foundation "Tercyduk Kampanye"

Kebetulan, di minggu (4/2) siang ini, ada sahabat Cahaya Foundation yang memiliki kelapangan rizki berupa 50 paket nasi kotak untuk diderma kepada saudara-saudara kita yang kurang seberuntung kita. Sasaran kali ini para pengemudi transportasi roda tiga yang cukup melegenda, di wilayah seputaran Jalan Mayor Oking hingga Jalan RA Kartini, Kota Bekasi.

50 paket nasi kotak sudah dikirim tepat jam 10.00 WIB, untuk disebar sebagai santap siang. 2 keluarga relawan berikut anak-anaknya yang sudah remaja juga sudah menunggu untuk ikut membantu menyebarkannya. Selepas shalat dzuhur, dengan penuh keceriaan layaknya akan berangkat piknik, rombongan bergerak. 

Setiba di lokasi, semua paket diturunkan. Dengan berjalan kaki, paket nasi kotak dibawa dengan menggunakan wadah kantong plastik besar. Satu per satu paket nasi kotak untuk makan siang diberikan langsung dari tangan penyalur ke tangan yang berhak menerimanya. Tidak sampai satu jam, semua nasi kotak ludes, tinggal menyisakan kantong plastik wadah bawaan. 



Semua relawan terlihat bahagia menyaksikan saudara-saudara kita menyantap dengan lahap pemberian yang nilainya tidak seberapa. Hanya sekotak nasi yang hanya cukup untuk sekedar mengganjal perut di siang hari. Namun, dalam hati menyeruak rasa syukur yang tak terhingga kepada Yang Maha Kuasa atas semua kelimpahan berkah sehingga selalu diberi kesempatan untuk bisa berbagi kepada sesama, dengan sepenuh cinta. (Cahaya Foundation / Mira Tjandra)

#CahayaFoundation #Berbagi #BahagiakanDhuafa #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Kamis, 01 Februari 2018

LAPORAN KEGIATAN PERIODE JANUARI 2018

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Salam takzim untuk Sahabat semua, semoga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari selalu diberikan SemangArt, kelancaran dan kemudahan.
Aamiin...

Berikut kami sampaikan Laporan Kegiatan Cahaya Foundation untuk Periode Bulan Januari 2018 yang secara bersama-sama kita telah melakukan banyak hal bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang layak dan berkeadilan, sedekah nasi Jum'at berbagi, kunjungan + santunan lansia dhuafa,100 buah majalah PAUD untuk bahan ajar dan 1 buah ranjang pasien dengan total manfaat senilai Rp. 205.640.000,-

Perlu Sahabat sekalian ketahui, bahwa pada Bulan Januari 2018 ini, kegiatan kita sudah lebih variatif lagi, selain pendampingan pasien juga ada kegiatan santunan rutin yatim dhuafa, donasi 100 buah majalah PAUD setiap bulannya, kegiatan belajar mengajar, penyaluran ranjang untuk pasien yang terpaksa harus home care, dan kunjungan + santunan lansia dhuafa, yang otomatis manfaat kegiatan ini pun semakin luas pula.

Pada Periode Bulan Januari 2018 ini, sebanyak 21 kali pembelaan pendampingan pasien telah kita lakukan, yang terdiri dari 19 kali pendampingan pasien rawat jalan dan 2 kali pendampingan pasien rawat inap.

Demikian penyampaian Laporan Kegiatan Periode Bulan Januari 2018. Terima kasih atas sepenuh do'a yang tercurah dan segala dukungan yang tak terhingga dari Sahabat sekalian.

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

#CahayaFoundation #Laporan #Kesehatan #Advokasi #CareGivers #Pendampingan #Pasien #MajalahPAUD #RumahBelajar #HospitalBed #RanjangPasien #Santunan #Yatim #Lansia #Dhuafa #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia 
  

Selengkapnya

Rabu, 24 Januari 2018

Mengunjungi Frans Diego


JAKARTA -- Perjalanan hidup Frans Diego (36 tahun) dalam menjalani hari-harinya sebagai penyintas Myasthenia Gravis, salah satu penyakit autoimun yang cukup berat dan langka, merupakan sebuah kisah yang cukup menginspirasi. 14 tahun sudah Myasthenia Gravis bersemayam di tubuhnya. Ruangan-ruangan berbagai Rumah Sakit sudah sangat dihapalnya dan berbagai macam obat sudah seperti menjadi menu kesehariannya.

"Saat itu sama sekali nggak tahu apa itu Myasthenia Gravis. Namanya pun sangat asing bagi saya. Yang saya rasakan di awal-awal, salah satu kelopak mata saya menutup dan setiap kali makan selalu tersedak", tutur Frans, kepada Eka Diah Purwanti, salah seorang founder Cahaya Foundation, yang juga penyintas Myasthenia Gravis, saat sharing dan berkesempatan berkunjung ketika sama-sama dirawat di Rumah Sakit Pendidikan Terbesar di Indonesia, pada Rabu (3/1) yang lalu.

Frans pertama kali berobat ke bagian poli mata di Rumah Sakit Umum Daerah di Jakarta Timur pada pertengahan tahun 2004. Oleh dokter spesialis mata yang menangani saat itu, Frans diduga menderita Myasthenia Gravis dan dioper ke dokter spesialis syaraf untuk memastikan jenis penyakitnya. Dokter syaraf yang menangani segera membuat rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat yang paling lengkap peralatannya untuk menjalani tes Elektromiografi (EMG), yaitu teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot skeletal.

EMG merupakan tes penting yang digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf dan sering digunakan untuk mengevaluasi kelainan sistem saraf periferal. Elektromiografi mencakup penyisipan elektroda pin (jarum halus) melalui kulit dan masuk ke dalam jaringan otot, kemudian aktivitas listrik otot direkam pada komputer. Hasil tes ini memungkinkan ahli saraf mendiagnosis setiap aktifitas otot atau saraf yang abnormal. Tes ini membantu membedakan antara akar saraf dan penyakit otot.

Setelah hasil EMG diketahui, yang menyatakan tegaknya diagnosis Myasthenia Gravis, selanjutnya Frans menjalani kontrol pengobatan rutin dan dikembalikan ke Rumah Sakit Umum Daerah yang sedari awal menanganinya.

Berdasarkan hasil CTScan Thorax dengan Kontras pada tahun 2007, ditemukan thymoma yaitu tumor atau pembesaran pada kelenjar timus, kelenjar yang terletak di mediastinum anterior (daerah antara paru-paru di dada) yang memainkan peran penting dalam perkembangan sel-sel imun.

Timus dapat diangkat sebagai salah satu treatmen dari Myasthenia Gravis dengan harapan dapat meningkatkan kesempatan remisi (hilangnya gejala dan tidak diperlukan konsumsi obat-obatan) dari penyakit tersebut. Diperkirakan beberapa pasien yang melakukan pengangkatan timus dapat mengurangi produksi antibodi yang menyerang nerve-muscle junction (sambungan antara syaraf dan otot), yang menyebabkan penyakit ini.

Awal 2008 dijadwalkan untuk tindakan thymectomy, yaitu prosedur bedah atau operasi besar untuk pengangkatan timus di Rumah Sakit Kanker terkemuka di Jakarta. "Paska thymectomy, saya gagal napas sehingga harus ditrakeostomi (leher dilubangi) untuk alat ventilator. Saya dirawat dan harus menggunakan ventilator selama 5 bulan", lanjut Frans.

Akan tetapi, paska dirawat dengan menggunakan ventilator tersebut, alat trakeos yang terpasang tidak langsung diangkat. Diduga hal inilah yang menjadi sumber masalah, karena setelahnya Frans sering mengalami infeksi paru secara berulang. Setiap tahun sampai 2-3 kali harus dirawat di Rumah Sakit, dengan rata-rata perawatan 1-3 bulan.

Frans juga pernah mengalami fase lumpuh selama 1 tahun lebih; 143 hari dirawat di ICU dan 7 bulan dalam perawatan di bangsal rawat inap. Pada 2017 kemarin kondisi semakin memburuk. Dokter Paru mengatakan bahwa paru-paru Frans sudah rusak permanen, sehingga ia harus menggunakan oksigen selama 24 jam, dan bantal harus ditinggikan saat tidur.

Januari hingga Juni 2017 dirawat. November sampai Januari ini juga masih dirawat. Yang paling memperburuk kondisinya justru dari infeksi Myasthenia Gravis-nya itu sendiri. Banyak obat-obatan yang tidak cocok untuk Myasthenia Gravis, dan justru memperburuk kondisinya, padahal obat-obatan tersebut justru yang bagus untuk pengobatan infeksinya.

Pembiayaan sejak awal menjalani pengobatannya, Frans terpaksa membayarnya secara tunai, dikarenakan saat itu belum ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk seluruh lapisan masyarakat, sehingga hampir semua harta benda yang dimiliki, seperti rumah, tanah dan mobil, terpaksa dijual. Usaha playstation yang dimilikinya pun terpaksa ditutup. Seringnya keluar masuk dan rawat inap di Rumah Sakit menyebabkan usahanya terbengkalai dan harus gulung tikar.

Di saat segala harta benda yang dimilikinya sudah betul-betul habis-habisan untuk membiayai pengobatan dirinya, beruntung di akhir tahun 2012, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta memberikan Kartu Jakarta Sehat (KJS), yang merupakan kelanjutan dari Kartu Keluarga Miskin (Kartu Gakin), untuk Layanan Jaminan Kesehatan secara gratis bagi dirinya.

Di akhir 2013, saat pemerintah pusat menerbitkan Kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), Frans mendaftar dan mulai menggunakan BPJS Kesehatan Mandiri kelas 1 untuk jaminan pengobatannya. Seiring dengan peraturan baru BPJS Kesehatan yang mewajibkan pembayaran iuran harus per Kartu Keluarga, Frans tidak sanggup membayar iuran BPJS Kesehatan tersebut, sehingga kembali menggunakan KJS.

Pengalaman hidup Frans yang tidak pernah menyerah pada keadaan, selalu berikhtiar/berusaha semaksimal mungkin dalam segala hal, dan selalu berdoa memohon bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dengan keyakinannya, serta selalu berpikir positif dan sabar dalam menjalani suatu proses, menjadikannya tetap tegar hingga saat ini. Usaha sudah dilakukan secara maksimal, doa pun sudah dipanjatkan tak pernah putus, maka selanjutnya, biarkan takdir yang bertarung di langit. (Cahaya Foundation / EDP)

#CahayaFoundation #Sharing #Caring #MyastheniaGravis #Jakarta #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Senin, 22 Januari 2018

Keluarga Bahagiakan Lansia




KOTA BEKASI -- Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Banyak dijumpai pengalaman bahwa justru di masa tua lah seseorang seperti tercerabut dari hiruk pikuk ramainya kehidupan. Tugas bagi mereka yang masih berada dalam usia produktif lah untuk membuat para lansia berbahagia dan tidak merasa kesepian. 

Kesepian, menurut penelitian John Cacioppo, profesor psikologi dari University of Chicago, Amerika Serikat, merupakan penyebab utama kematian bagi orang lanjut usia dengan usia 60 tahun ke atas. Bahkan secara umum, prosentasenya mencapai 14 persen dari penyebab kematian lain. Di usia senja, orang tua cenderung memiliki perasaan terisolasi dari orang lain, yang kemudian akan menyebabkan berbagai gangguan fisik, seperti gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, peningkatan hormon stres, gangguan pada sel-sel imun dan meningkatkan depresi.

Pada kesempatan di pagi hari Minggu (21/1), Cahaya Foundation mendapat amanah, berupa titipan kebahagiaan untuk disampaikan kepada 50 orang lansia dhuafa yang sudah terdata di sekitar wilayah Bekasi Jaya, Bekasi Timur dan Marga Mulya, Bekasi Utara, dua wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai besar yang membelah Kota Bekasi.

Dengan tema kegiatan; "Keluarga Bahagiakan Lansia", yang mana para relawan yang ikut terlibat sebagian besar adalah para keluarga, yang terdiri dari pasangan suami istri dengan membawa serta anak-anak mereka. Mengunjungi langsung ke rumah-rumah para lansia penerima manfaat berdasarkan data yang sudah disediakan. Seakan-akan mereka sedang berkunjung ke rumah kakek nenek mereka pada saat libur sekolah. 

"Kegiatan seperti ini sangat seru dan asyik. Sebuah solusi alternatif mengalihkan mindset anak-anak dari mall kepada kegiatan yang lebih edukatif, riil dan bermanfaat. Memanusiakan dan memuliakan lansia akan menumbuhkan mindset anak-anak agar lebih sayang kepada orangtua", tegas Rahmi Primaswari, salah seorang relawan yang membawa serta suami dan kedua buah hatinya.

Wiwik Rahayu, koordinator kegiatan mengatakan, bahwa kegiatan tersebut sengaja dikemas sedemikian rupa agar antara relawan yang berbagi dengan para lansia penerima manfaat terjalin ikatan emosional yang kuat. "Sengaja setiap relawan, beserta keluarga yang dibawanya, door to door langsung membawa bingkisan ke rumah-rumah para lansia yang sudah terdata, mengunjungi, bersilaturahmi, ngobrol banyak hal, tertawa dan menangis bersama bagaikan keluarga yang sudah lama tidak pernah bertemu, agar terjalin chemistry yang kuat antara relawan dengan kakek nenek yang kita santuni", paparnya.

Berbagi kebahagiaan yang paling dasar dan mudah adalah dengan memberi perhatian dan senyum, karena perhatian dan senyum dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, dan memudahkan orang saat berinteraksi.  Perhatian dan senyum adalah cara paling murah untuk mendatangkan berkah. Perhatian dan senyum itu dapat menular, seperti halnya perbuatan baik lainnya. (Cahaya Foundation / Donna Aristhea)

#CahayaFoundation #Keluarga #Berbagi #Bahagia #Lansia #Dhuafa #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia

Selengkapnya

Jumat, 19 Januari 2018

Sedekah Makan Siang Jum'at Berbagi





Siang selepas ibadah shalat Jum'at, kantor Cahaya Foundation yang berada persis di belakang RS Mekarsari Bekasi mendapat kiriman beberapa puluh kotak nasi dari sebuah Rumah Makan yang dipesan oleh seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai Hamba Allah. "Ada titipan sedekah makan siang untuk dibagikan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung", ujar kurir dari rumah makan tersebut. Dari tampilan wadahnya, isi kotaknya sepertinya cukup istimewa dan samar-samar aroma yang menguar dari dalamnya sangat menggugah selera. 

Sasaran penyebaran sudah ditentukan. Lokasi tidak jauh dari kantor Cahaya Foundation, di sekitar Jalan KH Agus Salim dan Jalan Ki Mangunsarkoro, yang kebetulan banyak dijumpai bapak-bapak pengemudi becak dan beberapa orang pemulung yang kerap kali melintas mencari nafkah. 

Dengan menggunakan 1 buah sepeda motor, pendistribusian sedekah makan siang cukup dilakukan oleh 2 orang saja yang menyebarkan. Salah seorang mengemudikan kendaraan, sedangkan salah seorang yang lainnya membawa 2 kantong plastik besar kotak nasi di kiri kanan tangannya. Cuma dalam waktu tidak lebih dari 1 jam dan cukup 3 kali bolak balik mengambil untuk kemudian didistribusikan, maka selesai sudah kegiatan sedekah makan siang dilakukan. 

Teringat sebuah kisah tentang sedekah makan siang di hari Jum’at  yang pernah ada di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Disebutkan dalam Shahihain, dari Abu Hazim Radhiyallahu 'Anhu, dari Sahal Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Kami sangat gembira bila tiba hari Jum’at.” Saya (Abu Hazim) bertanya kepada Sahal: “Mengapa demikian?” Jawabnya:  “Ada seorang nenek tua yang pergi ke Budha’ah -sebuah kebun di Madinah- untuk mengambil ubi dan memasaknya di sebuah periuk dan juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at, kami pergi dan mengucapkan salam padanya lalu dia akan menyuguhkan (makanan tersebut) untuk kami. Itulah sebabnya kami sangat gembira. Tidaklah kami tidur siang dan makan siang kecuali setelah jumat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kegiatan sedekah makan siang di hari Jum'at kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung ini bisa menjadi sarana untuk membangun rasa empati/kepedulian kepada sesama dan sebuah terapi untuk melunakkan kekerasan hati pada diri kita yang kerap tidak kita sadari. Kegiatan yang sederhana dan relatif murah, karena disesuaikan dengan kemampuan kita dan bisa dilakukan di sekitar kantor atau tempat tinggal kita di waktu istirahat setelah shalat Jum'at.

Sedekah makan siang bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yaitu para fuqoro’ dan masakin, adalah salah satu amal kebaikan yang sangat dicintai Allah. Kegiatan sosial ini akan semakin berkah karena bisa menjadi sebab mempererat tali ukhuwah dan membahagiakan orang-orang susah. Lebih-lebih bisa dijadikan sarana menyampaikan dakwah dan nasihat; sehingga jasmani dan rohani sama-sama dapat nutrisi. (Cahaya Foundation / Wiwik)

#CahayaFoundation #Berkah #Jumat #Donasi #Sedekah #Berbagi #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Rabu, 10 Januari 2018

Kado Berharga Untuk Ibu Sri

KOTA BEKASI -- "Di pagi itu ibu berteriak, katanya kakinya tidak bisa digerakkan, badannya terasa separuh lemas. Setelah diperiksa di RSUD Kota Bekasi, dokter poli eksekutif yang menangani ibu saat itu langsung bilang bahwa ibu kena serangan Stroke yang pertama", tutur Linda, putri ibu Sri Sumarni (65), saat mengawali ceritanya tentang kejadian 4 tahun silam. Saat itu ibu Sri sempat dirawat di ruang Anggrek selama 10 hari, kemudian diperbolehkan pulang setelah kondisi fisiknya dinyatakan cukup stabil.

Setelah kejadian tersebut, ibu Sri mendapat bantuan dari banyak muridnya semasa mengajar di SMAN 1 Bekasi, yang sebagian besar digunakan untuk menjalani terapi dan membeli kursi roda. Dalam waktu kurang dari 3 bulan ibu Sri bisa beraktifitas kembali, sudah bisa berjalan seperti sebelum sakitnya. 

"Sekitar tahun 2016 lalu, pergelangan kaki ibu luka dan bengkak akibat dipijat terlalu keras. Saat itu dibawa ke dokter praktek di sekitar rumah dan diberi obat. Ternyata antibiotik yang diberikan terlalu keras, sehingga menyebabkan ibu justru keracunan antibiotik. Ibu gak bisa bangun, kena asam lambungnya sehingga lebih sulit mengobatinya. Hingga saat ini keadaannya seperti itu", kembali Linda berkisah.


Relawan Pendamping Cahaya Foundation tiba di kediamannya, di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Selasa (9/1) dalam kesempatan penyerahan titipan donasi tempat tidur pasien 3 engkol dari PT Buancitra Sejati Jaya Makassar. Bersama suami tercinta yang selalu mendampingi, ibu Sri merasa sangat bersuka cita atas ketibaan tempat tidur pasien yang sudah dinantikannya. "Alhamdulillah, sangat bermanfaat untuk istri saya", tegas suami beliau.

"Sebenarnya kabar ibu diberikan tempat tidur ini, saat itu November hari ultah ibu. Pas Cahaya Foundation datang dan undangan Reuni Perak Alumni SMAN 1 Bekasi Angkatan 1992 itu. Ini adalah hadiah berharga buat ibu. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang diberikan oleh kakak-kakak alumni, juga owner PT Buancitra Sejati Jaya Makassar atas sumbangan tempat tidurnya yang dititipkan melalui Cahaya Foundation.  Minta do'anya agar ibu kembali pulih dan panjang umur yang barokah serta bisa aktivitas kembali. Atas nama keluarga, tak hentinya mengucap syukur alhamdulillah atas perhatian yang diberikan kakak-kakak alumni SMAN 1 Bekasi,  SMA PGRI 1 Bekasi, yang tanpa henti dan tanpa putus mengasihi ibu. Allah yang akan membalasnya. Semoga kita semua diberi kesehatan. Aamiin...", pungkas Linda menambahkan.


Ternyata ibu Sri mengalami perjalanan panjang dalam menerima ujian dari Allah. Tahun 1995 terdiagnosa Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi. Saat bersama keluarga berlibur ke Yogyakarta, pernah juga dirawat di RS Panti Nugroho Yogyakarta akibat anfal karena gula darah mendadak diatas 400 mg/Dl. Setelahnya sering kali bolak balik dirawat di RS Islam Cempaka Putih Jakarta akibat kondisi yang sama.

Karena penyakitnya itu, ibu Sri justru menemukan obat herbal untuk penyakitnya, yaitu Jus Mengkudu, sehingga bisa memproduksi sendiri dan terdistribusi di seluruh apotek di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bali di tahun 1999. Lagi-lagi cobaan datang menghampiri. Usaha yang dirintis sejak awal tersebut pada akhirnya gulung tikar karena dimanipulasi oleh orang kepercayaan yang selama ini mengelola usaha tersebut. Saat itu ibu Sri sudah menjadi Kepala Sekolah di SMA Pangeran Jayakarta Bekasi dan menjadi dosen di STKIP. 

Kembali di tahun 2006 ibu Sri diuji. Kerjasama usaha yang dirintisnya musnah dalam sekejap, sehingga modal usaha senilai 400 juta rupiah dibawa lari mitra usaha dan seluruh aset yang dimiliki berupa rumah dan tanah berpindah tangan, dengan total kerugian sebesar 2 miliar rupiah saat itu. Proses sidang secara marathon pernah dijalani hingga ke Mahkamah Agung, namun sayangnya justru dinyatakan kalah di tahun 2012. Setelahnya, masih diuji kembali, yaitu kendaraan mereka pun digelapkan oleh tetangga sendiri.

Masih di tahun 2012, ibu Sri kembali anfal, dan dilarikan ke salah sebuah RS swasta terdekat. Karena kurang baik penanganannya, keluarga memutuskan untuk dipindah ke RSUD Kota Bekasi, dengan diagnosa ada abses pada paru-parunya. Sekitar 1,5 liter nanah berhasil disedot saat itu juga.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, garasi rumahnya disulap menjadi sebuah usaha warung kelontong yang dikelola sang suami. Pahit manisnya kehidupan yang dijalani sudah diserahkan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Takdir. Hanya keikhlasan dan kepasrahan secara total kepada Allah lah yang menyebabkan ibu Sri masih dapat menjalani lelakon peran hidupnya hingga saat ini. (Cahaya Foundation / Junaedi)

#HospitalBed #Donasi #Jabodetabek #Bekasi #Makassar #Indonesia

Selengkapnya