Rabu, 10 Januari 2018

Kado Berharga Untuk Ibu Sri

KOTA BEKASI -- "Di pagi itu ibu berteriak, katanya kakinya tidak bisa digerakkan, badannya terasa separuh lemas. Setelah diperiksa di RSUD Kota Bekasi, dokter poli eksekutif yang menangani ibu saat itu langsung bilang bahwa ibu kena serangan Stroke yang pertama", tutur Linda, putri ibu Sri Sumarni (65), saat mengawali ceritanya tentang kejadian 4 tahun silam. Saat itu ibu Sri sempat dirawat di ruang Anggrek selama 10 hari, kemudian diperbolehkan pulang setelah kondisi fisiknya dinyatakan cukup stabil.

Setelah kejadian tersebut, ibu Sri mendapat bantuan dari banyak muridnya semasa mengajar di SMAN 1 Bekasi, yang sebagian besar digunakan untuk menjalani terapi dan membeli kursi roda. Dalam waktu kurang dari 3 bulan ibu Sri bisa beraktifitas kembali, sudah bisa berjalan seperti sebelum sakitnya. 

"Sekitar tahun 2016 lalu, pergelangan kaki ibu luka dan bengkak akibat dipijat terlalu keras. Saat itu dibawa ke dokter praktek di sekitar rumah dan diberi obat. Ternyata antibiotik yang diberikan terlalu keras, sehingga menyebabkan ibu justru keracunan antibiotik. Ibu gak bisa bangun, kena asam lambungnya sehingga lebih sulit mengobatinya. Hingga saat ini keadaannya seperti itu", kembali Linda berkisah.


Relawan Pendamping Cahaya Foundation tiba di kediamannya, di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Selasa (9/1) dalam kesempatan penyerahan titipan donasi tempat tidur pasien 3 engkol dari PT Buancitra Sejati Jaya Makassar. Bersama suami tercinta yang selalu mendampingi, ibu Sri merasa sangat bersuka cita atas ketibaan tempat tidur pasien yang sudah dinantikannya. "Alhamdulillah, sangat bermanfaat untuk istri saya", tegas suami beliau.

"Sebenarnya kabar ibu diberikan tempat tidur ini, saat itu November hari ultah ibu. Pas Cahaya Foundation datang dan undangan Reuni Perak Alumni SMAN 1 Bekasi Angkatan 1992 itu. Ini adalah hadiah berharga buat ibu. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang diberikan oleh kakak-kakak alumni, juga owner PT Buancitra Sejati Jaya Makassar atas sumbangan tempat tidurnya yang dititipkan melalui Cahaya Foundation.  Minta do'anya agar ibu kembali pulih dan panjang umur yang barokah serta bisa aktivitas kembali. Atas nama keluarga, tak hentinya mengucap syukur alhamdulillah atas perhatian yang diberikan kakak-kakak alumni SMAN 1 Bekasi,  SMA PGRI 1 Bekasi, yang tanpa henti dan tanpa putus mengasihi ibu. Allah yang akan membalasnya. Semoga kita semua diberi kesehatan. Aamiin...", pungkas Linda menambahkan.


Ternyata ibu Sri mengalami perjalanan panjang dalam menerima ujian dari Allah. Tahun 1995 terdiagnosa Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi. Saat bersama keluarga berlibur ke Yogyakarta, pernah juga dirawat di RS Panti Nugroho Yogyakarta akibat anfal karena gula darah mendadak diatas 400 mg/Dl. Setelahnya sering kali bolak balik dirawat di RS Islam Cempaka Putih Jakarta akibat kondisi yang sama.

Karena penyakitnya itu, ibu Sri justru menemukan obat herbal untuk penyakitnya, yaitu Jus Mengkudu, sehingga bisa memproduksi sendiri dan terdistribusi di seluruh apotek di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bali di tahun 1999. Lagi-lagi cobaan datang menghampiri. Usaha yang dirintis sejak awal tersebut pada akhirnya gulung tikar karena dimanipulasi oleh orang kepercayaan yang selama ini mengelola usaha tersebut. Saat itu ibu Sri sudah menjadi Kepala Sekolah di SMA Pangeran Jayakarta Bekasi dan menjadi dosen di STKIP. 

Kembali di tahun 2006 ibu Sri diuji. Kerjasama usaha yang dirintisnya musnah dalam sekejap, sehingga modal usaha senilai 400 juta rupiah dibawa lari mitra usaha dan seluruh aset yang dimiliki berupa rumah dan tanah berpindah tangan, dengan total kerugian sebesar 2 miliar rupiah saat itu. Proses sidang secara marathon pernah dijalani hingga ke Mahkamah Agung, namun sayangnya justru dinyatakan kalah di tahun 2012. Setelahnya, masih diuji kembali, yaitu kendaraan mereka pun digelapkan oleh tetangga sendiri.

Masih di tahun 2012, ibu Sri kembali anfal, dan dilarikan ke salah sebuah RS swasta terdekat. Karena kurang baik penanganannya, keluarga memutuskan untuk dipindah ke RSUD Kota Bekasi, dengan diagnosa ada abses pada paru-parunya. Sekitar 1,5 liter nanah berhasil disedot saat itu juga.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, garasi rumahnya disulap menjadi sebuah usaha warung kelontong yang dikelola sang suami. Pahit manisnya kehidupan yang dijalani sudah diserahkan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Takdir. Hanya keikhlasan dan kepasrahan secara total kepada Allah lah yang menyebabkan ibu Sri masih dapat menjalani lelakon peran hidupnya hingga saat ini. (Cahaya Foundation / Junaedi)

#HospitalBed #Donasi #Jabodetabek #Bekasi #Makassar #Indonesia


EmoticonEmoticon