Tampilkan postingan dengan label Donasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2018

Komunitas '97: Bertemu, Bersilaturahmi, Beramal

Pemeriksaan kesehatan umum (foto: Handika)

Alumni SMA Negeri 1 Bekasi Angkatan 1997 (Komunitas '97) mengadakan Pengobatan Massal Gratis sebagai ajang Halal Bihalal yang dikemas dalam bentuk Bakti Sosial (Baksos), yang dilaksanakan pada hari Minggu (1/7/2018) bertempat di SMAN 1 Bekasi, Jln. Agus Salim No. 181, Bekasi Jaya, Kota Bekasi.

Aksi sosial yang dinamai "Baksos Komunitas ’97: Pengobatan Massal Gratis - BERTEMU, BERSILATURAHMI, BERAMAL" ini bekerjasama dengan Cahaya Foundation, SMA Negeri 1 Bekasi, Kimia Farma, dan BPJS Kesehatan. Disponsori oleh Kapuskopau TNI AU, Indofood, dan sponsor lainnya serta dukungan dari sebagian besar alumni SMAN 1 Bekasi Angkatan 1997. 

Haris Faisal, selaku Ketua Komunitas '97, menuturkan bahwa bakti sosial ini selain dapat mempererat tali silahturahmi antar alumni, juga bermaksud membantu masyarakat yang kekurangan dan tentunya bisa membangun citra positif almamater SMA Negeri 1 Bekasi.

"Kami dari Komunitas '97 rutin melaksanakan reuni sebagai ajang mempererat tali silaturahmi sesama alumni, namun yang berbeda pada tahun ini adanya kegiatan bakti sosial yaitu sunatan massal, donor darah, serta pemeriksaan mata secara gratis dan terbuka untuk umum." tuturnya saat ditemui di lokasi, Minggu (1/7/2018).

Kegiatan ini pun mendapat dukungan langsung dari beberapa guru dan murid Perguruan Silat Cinong Bekasi agar kenyamanan dan keamanan acara dapat berjalan lancar.

Adapun layanan medis cuma-cuma yang dibuka pada baksos ini terdiri atas enam bagian: Pemeriksaan Kesehatan Umum, Anak, Gigi, Khitan bagi 25 anak, Papsmear bagi 50 orang ibu-ibu dan Minilab untuk pemeriksaan kolesterol, asam urat dan gula darah. 

Eko Prasetyo, Direktur Eksekutif Cahaya Foundation menyambut gembira antusias warga dan kesigapan panitia acara bakti sosial kesehatan ini. 

"Ini salah satu kegiatan besar yang Cahaya Foundation dapat berperan positif bagi masyarakat. Semoga baksos ini dapat merangkul warga yang hidup berdampingan dengan almamater SMA Negeri 1 Bekasi dan bermanfaat bagi yang membutuhkan." ungkapnya.

===================================

Sumber terkait:

http://fokus.co.id/news/2018/07/komunitas-alumni-smansasi-97-gelar-bakti-sosial-menebar-manfaat-dan-merajut-silaturahmi

http://www.bekasitoday.com/2018/07/halal-bihalal-alumni-sman-1-bekasi-gelar-baksos-kesehatan.html

http://www.wajahbekasi.com/2018/07/silaturahim-alumni-sman-1-bekasi-97-gelar-pengobatan-gratis.html

http://www.redaksibekasi.com/2018/07/baksos-komunitas-97-pengobatan-gratis.html

http://singkapbekasi.com/2018/07/bertemu-bersilaturahim-beramal-halal-bihalal-ala-alumni-sman-1-bekasi-97/

http://fokusbekasi.com/pengobatan-masal-gratis-silaturahim-alumni-sman-1-bekasi-angkatan-97

https://www.kompasiana.com/bisot/5b38b679dd0fa80134732492/alumni-sman-1-bekasi-angkatan-97-laksanakan-halal-bihalal-dan-baksos-kesehatan
Selengkapnya

Rabu, 10 Januari 2018

Kado Berharga Untuk Ibu Sri

KOTA BEKASI -- "Di pagi itu ibu berteriak, katanya kakinya tidak bisa digerakkan, badannya terasa separuh lemas. Setelah diperiksa di RSUD Kota Bekasi, dokter poli eksekutif yang menangani ibu saat itu langsung bilang bahwa ibu kena serangan Stroke yang pertama", tutur Linda, putri ibu Sri Sumarni (65), saat mengawali ceritanya tentang kejadian 4 tahun silam. Saat itu ibu Sri sempat dirawat di ruang Anggrek selama 10 hari, kemudian diperbolehkan pulang setelah kondisi fisiknya dinyatakan cukup stabil.

Setelah kejadian tersebut, ibu Sri mendapat bantuan dari banyak muridnya semasa mengajar di SMAN 1 Bekasi, yang sebagian besar digunakan untuk menjalani terapi dan membeli kursi roda. Dalam waktu kurang dari 3 bulan ibu Sri bisa beraktifitas kembali, sudah bisa berjalan seperti sebelum sakitnya. 

"Sekitar tahun 2016 lalu, pergelangan kaki ibu luka dan bengkak akibat dipijat terlalu keras. Saat itu dibawa ke dokter praktek di sekitar rumah dan diberi obat. Ternyata antibiotik yang diberikan terlalu keras, sehingga menyebabkan ibu justru keracunan antibiotik. Ibu gak bisa bangun, kena asam lambungnya sehingga lebih sulit mengobatinya. Hingga saat ini keadaannya seperti itu", kembali Linda berkisah.


Relawan Pendamping Cahaya Foundation tiba di kediamannya, di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Selasa (9/1) dalam kesempatan penyerahan titipan donasi tempat tidur pasien 3 engkol dari PT Buancitra Sejati Jaya Makassar. Bersama suami tercinta yang selalu mendampingi, ibu Sri merasa sangat bersuka cita atas ketibaan tempat tidur pasien yang sudah dinantikannya. "Alhamdulillah, sangat bermanfaat untuk istri saya", tegas suami beliau.

"Sebenarnya kabar ibu diberikan tempat tidur ini, saat itu November hari ultah ibu. Pas Cahaya Foundation datang dan undangan Reuni Perak Alumni SMAN 1 Bekasi Angkatan 1992 itu. Ini adalah hadiah berharga buat ibu. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang diberikan oleh kakak-kakak alumni, juga owner PT Buancitra Sejati Jaya Makassar atas sumbangan tempat tidurnya yang dititipkan melalui Cahaya Foundation.  Minta do'anya agar ibu kembali pulih dan panjang umur yang barokah serta bisa aktivitas kembali. Atas nama keluarga, tak hentinya mengucap syukur alhamdulillah atas perhatian yang diberikan kakak-kakak alumni SMAN 1 Bekasi,  SMA PGRI 1 Bekasi, yang tanpa henti dan tanpa putus mengasihi ibu. Allah yang akan membalasnya. Semoga kita semua diberi kesehatan. Aamiin...", pungkas Linda menambahkan.


Ternyata ibu Sri mengalami perjalanan panjang dalam menerima ujian dari Allah. Tahun 1995 terdiagnosa Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi. Saat bersama keluarga berlibur ke Yogyakarta, pernah juga dirawat di RS Panti Nugroho Yogyakarta akibat anfal karena gula darah mendadak diatas 400 mg/Dl. Setelahnya sering kali bolak balik dirawat di RS Islam Cempaka Putih Jakarta akibat kondisi yang sama.

Karena penyakitnya itu, ibu Sri justru menemukan obat herbal untuk penyakitnya, yaitu Jus Mengkudu, sehingga bisa memproduksi sendiri dan terdistribusi di seluruh apotek di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bali di tahun 1999. Lagi-lagi cobaan datang menghampiri. Usaha yang dirintis sejak awal tersebut pada akhirnya gulung tikar karena dimanipulasi oleh orang kepercayaan yang selama ini mengelola usaha tersebut. Saat itu ibu Sri sudah menjadi Kepala Sekolah di SMA Pangeran Jayakarta Bekasi dan menjadi dosen di STKIP. 

Kembali di tahun 2006 ibu Sri diuji. Kerjasama usaha yang dirintisnya musnah dalam sekejap, sehingga modal usaha senilai 400 juta rupiah dibawa lari mitra usaha dan seluruh aset yang dimiliki berupa rumah dan tanah berpindah tangan, dengan total kerugian sebesar 2 miliar rupiah saat itu. Proses sidang secara marathon pernah dijalani hingga ke Mahkamah Agung, namun sayangnya justru dinyatakan kalah di tahun 2012. Setelahnya, masih diuji kembali, yaitu kendaraan mereka pun digelapkan oleh tetangga sendiri.

Masih di tahun 2012, ibu Sri kembali anfal, dan dilarikan ke salah sebuah RS swasta terdekat. Karena kurang baik penanganannya, keluarga memutuskan untuk dipindah ke RSUD Kota Bekasi, dengan diagnosa ada abses pada paru-parunya. Sekitar 1,5 liter nanah berhasil disedot saat itu juga.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, garasi rumahnya disulap menjadi sebuah usaha warung kelontong yang dikelola sang suami. Pahit manisnya kehidupan yang dijalani sudah diserahkan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Takdir. Hanya keikhlasan dan kepasrahan secara total kepada Allah lah yang menyebabkan ibu Sri masih dapat menjalani lelakon peran hidupnya hingga saat ini. (Cahaya Foundation / Junaedi)

#HospitalBed #Donasi #Jabodetabek #Bekasi #Makassar #Indonesia

Selengkapnya

Minggu, 24 Desember 2017

Ranjang Untuk Pak Sahid


KOTA BEKASI -- Perjalanan hidup manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian dan cobaan. Suatu ketika kita diuji dengan berbagai kenikmatan, seketika diwaktu yang lain kita juga diuji dengan kesulitan. Itulah nikmatnya hidup. Namun, yang pasti segala ujian itu tidaklah melebihi dari batas kemampuan yang kita miliki. 

Adalah bapak Abdul Sahid (66 tahun), seorang pensiunan guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bekasi, sebuah SMA tertua di Bekasi. Sebagai guru olahraga, tubuhnya tentunya bugar sekali. Istri dan anak-anaknya tidak menyangka setelah pensiun justru kondisi kesehatannya menjadi menurun drastis.

Pak Sahid, demikian beliau biasa dipanggil, yang pensiun di tahun 2011 ini, mulai terdiagnosa menderita sakit diabetes di tahun 2013. Dari penyakit diabetesnya ini, ternyata menimbulkan berbagai penyakit lain yang juga dideritanya, seperti Komplikasi Jantung, Ginjal, Mata, Penyakit Dalam, dan Syaraf Kejepit.

Berbagai Rumah Sakit pernah menangani pengobatan penyakitnya, mulai dari RS Mekarsari Bekasi, selanjutnya RSUD Kota Bekasi dan RS Bhakti Kartini Bekasi. Juga pernah 6 kali rawat inap, yaitu 2 kali di RS Budi Lestari selama beberapa hari di tahun 2013 dan 2014, 3 kali di RS Awal Bros Bekasi di tahun 2015 dan 2016, dan 1 kali di RS Fatmawati Jakarta selama 2 minggu di tahun 2017 ini. Kondisi terparah sewaktu tidak sadarkan diri sehingga dilarikan ke RS Awal Bros Bekasi dan harus dirawat selama 1 minggu di ruang ICU, setelahnya 1 minggu dirawat di ruang rawat biasa. 

Efek dari penyakit diabetesnya tersebut, terjadi luka bolong di sekitar paha sekitar 1 tahun yang lalu, yang akhirnya bisa mengering. Pada 3 bulan yang lalu hal yang sama juga dialaminya di bahu kaki kanannya, yang sekarang juga sudah mulai mengering. Saat ini pak Sahid menjalani rawat jalan kontrol rutin di poli dalam/ginjal, poli jantung, poli paru, poli syaraf, poli mata dan fisioterapi di RS Fatmawati Jakarta.


Semangat dan kegigihan pak Sahid melakukan berbagai upaya pengobatan atas penyakitnya serta kesabarannya dalam menghadapi ujian Allah ini menyebabkan Cahaya Foundation tergerak untuk menyalurkan bantuan dari PT Buancitra Sejati Jaya, berupa tempat tidur pasien untuk menjalani perawatan di rumah.  




“Terimakasih PT Buancitra Sejati Jaya dan Cahaya Foundation atas bantuannya, mudah-mudahan dengan adanya tempat tidur ini bapak menjadi lebih nyaman sewaktu menjalani perawatan di rumah dan mudah-mudahan pengobatan yang dilakukan selama ini bisa menyembuhkan penyakit bapak,” tutur ibu Eti, istri pak Sahid. (Cahaya Foundation/Junaedi)

#CahayaFoundation #Donasi #Hibah #Wakaf #PinjamPakai #RanjangPasien #HospitalBed #JaBoDeTaBek #Bekasi #Makassar #Indonesia

Selengkapnya

Rabu, 20 Desember 2017

Tempat Tidur Pasien Untuk Bidan Rini


KOTA DEPOK -- Tempat tidur pasien, untuk digunakan secara pribadi oleh pasien-pasien yang terpaksa harus home care, atau pun klinik-klinik kampung yang selama ini bersinergi dengan Cahaya Foundation dalam hal pelayanan kesehatan, telah tiba di Bekasi, dari Makassar, sejak 8 Desember 2017 yang lalu. Total unit yang nantinya akan tiba keseluruhannya sejumlah 40 unit. Untuk tahap awal ini telah tiba sebanyak 3 unit. Kondisi barang sangat lengkap. Hanya dirakit sebentar saja di bagian kepala dan kaki, maka tempat tidur pasien tipe 3 engkol ini siap digunakan, dilengkapi dengan tiang infus dan roda cadangan sebanyak 4 buah.

Atas bantuan bapak Bonar Simatupang, penanggung jawab PT Buancitra Sejati Jaya, perusahaan yang memberikan tempat tidur pasien tersebut kepada Cahaya Foundation untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang memang betul-betul membutuhkan, pada Senin, 18 Desember 2017, dengan ditemani cuaca yang cukup sejuk yang dibarengi gemericik kecil air dari langit, 2 unit tempat tidur pasien telah berhasil diangkat dari gudang PT Buancitra Sejati Jaya, di Ruko Perkantoran Emerald Sumarecon Bekasi, untuk disalurkan ke tempat-tempat tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Satu diantaranya untuk bidan Kusrini di Pancoran Mas, Kota Depok. Tempat tidur pasien tersebut akan digunakan untuk membantu kegiatannya dalam pelayanan kesehatan bagi warga di sekitar tempatnya tinggal.

Bidan Rini, demikian perempuan 36 tahun penggemar kucing itu biasa dipanggil, dedikasinya dalam pelayanan kesehatan bagi warga sekitar tempat tinggalnya terbilang luar biasa. Kapan pun ada orang yang membutuhkan bantuannya, ia selalu siap. Sering tengah malam saat hujan deras mengguyur ada orang yang mengetuk rumahnya untuk meminta bantuan. Padahal, kondisi fisiknya relatif kurang menguntungkan. Myasthenia Gravis, salah satu jenis penyakit autoimun yang menyerang syaraf otot secara serius, telah bersemayam di tubuhnya sekitar 3 tahun terakhir. Karena penyakit yang diidapnya tersebut, ia pernah tergolek di tempat tidur selama lebih dari 3 bulan. Perkenalan Cahaya Foundation dengan bidan Rini adalah di komunitas penderita Myasthenia Gravis, karena salah seorang founder Cahaya Foundation merupakan penderita Myasthenia Gravis juga. 


Jarak Bekasi - Depok yang lumayan jauh, seperti tak terasa ditempuh oleh bapak Junaedi, 72 tahun, relawan tersepuh di Cahaya Foundation, yang menyediakan waktu dan tenaganya untuk mengawal pengiriman. 2 jam sudah akhirnya tempat tidur pasien sampai di tujuan. Bidan Kusrini menyambutnya dengan penuh sukacita. 

"Jujur, mimpi pun enggak, saya bisa dapet tempat tidur seperti ini", ungkapnya. 


Semoga tempat tidur pasien ini bisa bermanfaat untuk membantu kegiatan pelayanan kesehatan yang bidan Rini lakukan. 

#Hibah #Wakaf #Donasi #HospitalBed #CahayaFoundation #Kesehatan #Bekasi #Depok #Indonesia
Selengkapnya

Jumat, 08 Desember 2017

Hibah 3 Unit Tempat Tidur Pasien


"Selamat pagi pak Eko. Saya Bonar pak, dari PT. Buancitra Sejati Jaya. Kami informasikan bahwa kiriman cargo 3 unit tempat tidur pasien untuk Cahaya Foundation telah tiba dari Makassar di kantor kami di Kompleks Ruko Emerald Sumarecon", demikian kalimat pertama yang saya dengar saat saya mengangkat perangkat seluler saya, pada pagi tadi. 

Saya, yang masih meringis karena terjatuh dari tangga yang menyebabkan pergelangan kaki kanan saya terkilir dan agak membengkak, mendadak seperti mendapat energi baru. Rasa sakit seperti tak terasa saat itu. Segera saya hubungi transportasi online untuk mengantarkan saya ke alamat yang diberikan untuk mengecek kondisi barang.

Disambut gerimis, transportasi online saya tiba persis di depan rumah. Sepanjang perjalanan saya komunikasi dengan tandem saya di Cahaya Foundation, Eka Diah Purwanti. Mengabarkan berita gembira itu seraya mengajaknya serta melihat kondisi barang yang telah tiba. 

Setiba di Kompleks Ruko Emerald Sumarecon, kami sudah ditunggu oleh pak Doddy, karyawan yang mengurusi bagian gudang. Diantarnya kami ke gudang untuk melihat kondisi barang perdana yang baru tiba. Kondisi barang bagus, masih baru gres, dan paletnya pun tak ada yang cacat. 

Sebentar kami berbincang-bincang mengenai peruntukan tempat tidur tersebut, yang akan disebar ke 3 Rumah Singgah Pasien Dampingan yang Cahaya-PMGI miliki, juga ke pasien tidak mampu yang terpaksa harus home care, yang rencananya total akan dikirim sejumlah 40 unit, berikut 1 unit mobil ambulance hibah dari RS Grestelina Makassar. Dan...., sambil saya pancing-pancing, ternyata harganya pun sangat wow untuk ukuran saya. 

Untuk kiriman tempat tidur pasien perdana ini peruntukannya akan kami berikan kepada para guru kami sewaktu di SMA; pak Said, yang menderita diabetes, dan bu Sri Sumarni, yang menderita stroke.

Syukur tak terhingga kami haturkan kepada Allah, yang telah memberikan karunia ini melalui perantaraan seseorang yang begitu dermawan. Terima kasih pula kepada sahabat semua atas sepenuh do'a dan dukungan yang luar biasa selama ini. Semoga Allah membalas dengan karunia dan rizki yang lebih besar dari ini semua. Aamiin....

#Hibah #Ambulance #HospitalBed #CahayaFoundation #PMGI #Bekasi #Bandung #Depok #Padang #Makassar #Indonesia

(Sumber: https://m.facebook.com/1mazeko)
Selengkapnya

Jumat, 24 November 2017

Kisah Manis Dari Makassar

"Ko, saya punya tempat tidur pasien 3 engkol biasa digunakan buat orang tua, siapa tau ada yg butuh bisa di kasih alamat ke saya nanti saya kirimkan", demikian bunyi pesan masuk di kotak pesan pada akun Facebook saya, tanggal 21 Oktober 2017 sore. Pengirim pesannya seorang pengusaha dari Makassar. Selanjutnya terjadi dialog singkat mengenai maksud dari isi pesannya tersebut. Hari2 berikutnya gak ada komunikasi apapun sama sekali.

Tetiba, pagi menjelang siang, pada Minggu tanggal 19 November 2017, ada pesan masuk di kotak pesan akun Facebook saya lagi. " Eko, bagaimana kalo saya undang kamu ke Makassar sekalian bicara mengenai beberapa hal yg mau dilakukan ?" begitu isi pesan awalnya. Terjadi lagi komunikasi sehingga diputuskan bahwa esok malam harinya saya sudah harus ada di Makassar, untuk kemudian lusa paginya saya menemui si pemberi pesan tersebut.

Saya meminta kepada si pemberi pesan supaya bisa mengajak serta Eka Diah Purwanti, tandem saya, yg selama ini jatuh bangun bersama mewujudkan mimpi sehingga terbentuk Yayasan Cita Sahabat Mulya (dikenal dengan nama; Cahaya Foundation), untuk menemani & membantu saya selama di Makassar. Untuk memastikan keberangkatan kami pada Senin malam tanggal 20 November 2017, 2 buah Tiket Batik Air dengan nomor penerbangan 7701 yg akan bertolak pada pukul 19.50 waktu Jakarta sudah dipesankan, lengkap dengan permintaan kursi roda untuk Eka, karena dia memang memiliki sedikit keterbatasan.


Disambut gerimis, Senin sore itu saya & Eka diantar oleh bang Wahyu Din, Arief Budiman & Susi Sunarti, sahabat2 saya yg selama ini mendukung kegiatan Cahaya Foundation. Batik Air yg saya tumpangi bertolak dari Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Sultan Hasanuddin Makassar, dengan waktu ketibaan pukul 23.10 waktu Makassar.

Sesampai di Bandara Sultan Hasanuddin, kami sudah ditunggu oleh pak Ismail, menggunakan mobil operasional Hotel Ibis Styles Sam Ratulangi Makassar. Diantarkannya kami ke hotel tersebut. Sudah tersedia 2 buah kamar di lantai 9 bernomor 911 & 915 untuk kami inapi selama beberapa hari ke depan. Sebentar bebersih diri, saya segera ambil posisi rebahan supaya kondisi fit keesokan hari.

Saat terbangun di pagi hari & buka jendela kamar, persis di hadapan saya ternampak sebuah bangunan gedung perkantoran setinggi sekitar 70 meter yg terdiri atas 15 lantai yg dibangun di atas lahan seluas 5.363 M2. Gedung ini diresmikan pada bulan Januari 2010. Namanya Wisma Kalla atau lebih dikenal dengan Kalla Tower. Sambil menunggu sarapan pagi, saya buka laptop untuk mengetik beberapa hal sembari komunikasi ke beberapa kawan. Tak terasa waktu sudah jam 8 pagi waktu Makassar, segera saya rapikan semua pekerjaan saya untuk bebersih diri & turun ke restorasi untuk sarapan sambil setelahnya menikmati kopi pagi, karena sesuai agenda, tepat pukul 9 pagi saya pasti sudah ditunggu untuk kegiatan sepenuh hari.

Di restorasi ternyata saya malah sudah ditunggu. Sambil sarapan & ngobrol sebentar, selanjutnya segera kami bertolak untuk menyambangi kantornya. Disambut gerimis di pagi hari, menaiki Maserati Quattroporte warna hitam keluaran terbaru, saya & Eka duduk di belakang. Agak berkeliling Kota Makassar, sebentar tibalah kami di bilangan Jalan Sungai Cerekang.

Segera kami meeting sebentar untuk membahas hal2 teknis mengenai proses serah terima hibah, peruntukkan hibah, prosedur pengiriman & lain sebagainya. Selesai meeting, muncul kendaraan ambulance yg katanya juga akan dihibahkan ambil posisi parkir di depan kantor. Sebuah mobil Suzuki APV tahun 2007 milik RS Grestelina Makassar, yg kondisinya masih sangat layak pakai dengan kilometer pada speedometernya masih sedikit. Sebuah bonus kejutan!!

Segera dilakukan simbolisasi serah terima mobil ambulance, setelahnya kami bergegas bertolak ke gudang PT. Buancitra Sejati Jaya, untuk melihat kondisi tempat tidur pasien yg sejak semula mau dihibahkan kepada Cahaya Foundation. Sebentar melewati tol, tibalah kami di gudang. Tempat tidur pasien tipe 3 engkol sudah berjejer terpallet rapih, siap dikirim secara bertahap. Semuanya berjumlah 40 buah. Tujuannya untuk mengisi Rumah Singgah Pasien Dampingan di Bandung, Depok & Padang. Juga dapat dipinjamkan kepada orang2 yg memang membutuhkan, yg terpaksa harus homecare. Setelah lengkap mengecek semua kondisi barang, kembali dilakukan serah terima secara simbolis. Tak lama kemudian, kami pun kembali bertolak ke dalam kota. Waktu sudah siang, tak terasa cacing di perut sudah mulai demo menuntut hak mereka.

Selesai sudah semua agenda acara serah terima hibah pagi hari ini. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat karena sore nanti akan ada kegiatan dengan RS Grestelina Makassar.

Sorenya, ternyata Eka disambangi oleh teman SMAnya yg tinggal di Makassar, namanya Agus. Sayang sekali, ngobrol dengan Agus gak berlangsung lama, karena sebentar kemudian kami sudah dijemput untuk mengunjungi RS Grestelina Makassar. Rumah Sakitnya cukup bagus, dengan luas areal sekitar 1 hektar. Semua ruang kami masuki, termasuk ruang jenazah & coffee shop di sudut dekat parkiran. Fasilitas yg ada di Rumah Sakit tersebut cukup lengkap untuk standar sebuah Rumah Sakit tipe B. Bahkan ruang pendaftaran untuk pasien BPJS sangat besar. Tak terasa 2 jam sudah kami berkeliling di RS Grestelina Makassar. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

Tepat pukul 7 keesokan harinya kami kembali dijemput untuk menyambangi sahabat2 kami di Makassar. Dengan diantar mobil operasional Hotel Ibis Styles Sam Ratulangi Makassar kami bergerak ke arah utara, di bilangan wilayah Antang. Di tempat tujuan kami sudah ditunggu oleh Poppie Murdekawati, adik kelas saya waktu SMA. Kopi hitam khas Toraja tanpa gula lengkap dengan sepiring Jalkot sudah terhidang diatas meja, di teras samping rumahnya yg asri. Sedangkan di atas meja makan pun telah terhidang kudapan khas Makassar, Coto. Di rumah Poppie pun kami cuma mampir sebentar, SMP - Setelah Makan Pulang -, karena kami harus mengejar waktu bergegas menemui koordinator PMGI, Fitri, di perumahan Gapura Jingga. Hujan masih menemani kami hingga selesai silaturahmi. Segera kami kembali ke Kota Makassar untuk berpamitan dengan sang pemberi undangan untuk kembali ke Bekasi. Tiket Batik Air dengan nomor penerbangan 7109 katanya sudah disiapkan, kembali lengkap dengan pesanan kursi roda untuk Eka.

Setiba di kantornya, sebentar kami berdiskusi. Selanjutnya kami diantar hingga ke mobil yg akan mengantarkan kami menuju bandara Sultan Hasanuddin. Sebelum kami bertolak, beliau berkata, "Eko & Eka, hari ini juga sementara 3 unit tempat tidur pasien saya kirim, selanjutnya secara bertahap hingga tuntas 40 unit yg saya janjikan. Minggu depan ambulance segera saya kirim. Teruslah dengan jalan yg sudah kalian tempuh ini. Kalian harus ikhlas, ini takdir kalian. Satu lagi, saya minta tolong, saya mau ada Cahaya di Makassar, terserah gimana caranya kalian atur. Saya punya tempat untuk bisa kalian buat Rumah Singgah Pasien Dampingan. Silahkan pake ambulance RS Grestelina untuk membantu mobilitasnya. RS Grestelina juga siap memback up untuk pasien rawat inapnya. Operasional saya bisa sediakan. Enak aja kalian doang yg masuk sorga sendirian, saya juga kepengen lah....".

Serasa diguyur seember air es di badan saya, sejuk, adem banget, sampe merinding semua bulu di sekujur badan saya. Betul2 tak terbayangkan sebelumnya. Lebih dari itu, kami merasa sangat bahagia & bersyukur yg tak terhingga atas semua anugerah ini. Saya tengok ke samping, Eka gak henti2nya menangis. Masih cengeng banget dia ternyata....

#Hibah #Ambulance #HospitalBed #CahayaFoundation #Bekasi #Makassar #Indonesia

http://www.cahayafoundation.org/2017/11/angin-sejuk-dari-makassar.html 


Selengkapnya

Selasa, 21 November 2017

Angin Sejuk Dari Makassar

MAKASSAR -- Seiring dengan semakin banyaknya pasien dampingan yang ditangani, menyebabkan Cahaya Foundation mengalami kesulitan dalam hal pelayanannya. Terutama yang berkaitan dengan mobilitas pasien dari dan ke Rumah Sakit yang dirujuk.

Bertepatan dengan 1 tahun milad Cahaya Foundation, merupakan titik tolak terbukanya harapan untuk mendapatkan sebuah hibah mobil ambulance yang sangat dinantikan keberadaannya. Sebuah angin segar berhembus dari kota nun jauh di timur Indonesia, Makassar.

Cahaya Foundation diundang untuk berkunjung ke Kota Makassar oleh RS. Grestelina Makassar dan PT. Buancitra Sejati Jaya Makassar. Undangan tersebut dalam rangka serah terima hibah mobil ambulance dan tempat tidur pasien yang digunakan untuk melayani pasien dampingan Cahaya Foundation. Secara simbolis, Direktur Eksekutif Cahaya Foundation, Eko Prasetyo, menerima hibah satu unit mobil ambulance dari RS. Grestelina Makassar, dan Eka Diah Purwanti, Kepala Divisi Kesehatan Cahaya Foundation, menerima hibah empat puluh unit tempat tidur pasien model tiga engkol dari PT. Buancitra Sejati Jaya, Selasa 21 November 2017. 


"Dengan adanya unit ambulance tersebut, diharapkan pelayanan akan lebih menjangkau ke wilayah yang lebih jauh. Tempat tidur pasien juga nantinya diutamakan akan dialokasikan di Rumah Singgah Cahaya yang saat ini sudah ada di Bandung, Depok dan Padang, menyusul Makassar. Selain itu juga untuk klinik mitra dan pasien dampingan yang memang harus home care.” ujar Eka.

Selama ini Cahaya Foundation memang masih terkendala untuk proses evakuasi pasien dari dan ke Rumah Sakit, dan belum adanya tempat tidur pasien yang cukup layak. Dengan adanya armada ambulance dan tempat tidur tersebut, diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan.
Untuk prosedur penggunaan ambulance, Eka menambahkan, masyarakat yang membutuhkan bisa melalui telepon ke nomor seluler yang tercantum pada body ambulance. Selanjutnya, ambulance akan datang menjemput masyarakat yang membutuhkan.
Selengkapnya

Jumat, 03 Maret 2017

Donasi Majalah PAUD periode Maret 2017

 

Alhamdulillah... Jum'at berkah...


Donasi majalah PAUD bulanan edisi ke 8 untuk bulan Maret sebanyak 100 eksemplar dikirim kembali untuk didistribusikan ke Sekolah Terbuka Tarumajaya, Terasuka Muara Gembong dan Sanggar Kabasa Kampung Mede.


Semoga barokah untuk yang mendonasikan maupun yang menerima manfaat. Aamiin...
Selengkapnya

Senin, 06 Februari 2017

Donasi Sarana TPA di Kampung Bulak Macan


Selepas 'asar ini Tim Pendamping Pasien Cahaya Foundation masih sempat mengantarkan amanah titipan dari langit berupa 1 set whiteboard lengkap, 50 buku iqro', 5 buah Al Qur'an besar dan tikar lipat untuk melengkapi kebutuhan pengajian terasan anak-anak di Kampung Bulak Macan, Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara.

Kampung ini termasuk kampung yang lumayan padat penduduknya. Ada sekitar 40-an anak yang belajar mengaji setiap ba'da maghrib hingga isya' setiap hari senin hingga jum'at setiap harinya di pengajian terasan itu. Disebut pengajian terasan karena memang mengajinya di teras rumah karena tidak ada tempat yang luas kecuali teras rumah pak ustadznya.

Semoga titipan ini bisa bermanfaat dan dapat digunakan untuk anak-anak secara maksimal di pengajian terasan itu. Aamiin...
Selengkapnya

Donasi Bulanan Majalah PAUD


Puji syukur yang tak habis-habisnya kami panjatkankan ke hadirat Lillahi Robbi, yang melalui tangan-tangan ajaibNYA selalu memberikan segala sesuatu yang memang dibutuhkan oleh ummatNYA.


Baru saja tiba kiriman rutin majalah PAUD untuk belajar anak-anak mitra binaan yang selama ini sangat minim alat bantu pendidikan.


Terima kasih yang tak terhingga kami haturkan kepada semua Sahabat yang selalu mendukung setiap kegiatan dan niat baik ini. Semoga berkah selalu tercurah untuk kita semua. Aamiin....
Selengkapnya

Jumat, 27 Januari 2017

Donasi Buku Iqro


Baru tiba dan masih hangat, donasi buku IQRO' diantar langsung oleh donaturnya. "Buat anak-anak binaan. Maaf baru bisa ngasih iqro' segini.", katanya.


Ya ampuuunnn...repot-repot sangat yak sampai bela-belain ngirim langsung sendiri. Padahal kan bisa kami jemput ke rumah... By the way, TERIMA KASIH BANYAK dari kami yang sudah dibantu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk anak-anak.


Sayangnya sang donatur tidak berkenan diajak selfie. Bergegas kembali ke motornya, menstarter, kemudian langsung pergi.

Selengkapnya

Selasa, 10 Januari 2017

Donasi Bulanan Majalah PAUD


Alhamdulillah, kiriman rutin majalah bulanan untuk anak-anak tidak mampu dari donatur yang peduli pendidikan anak usia dini sudah kami terima sebanyak 100 eksemplar dan siap didistribusikan.

Berkah selalu untuk para donatur dan kita semua.


Yuk berbuat yang terbaik untuk pendidikan anak-anak tidak mampu di sekitar kita dengan cara dan karya yang kita bisa.
Selengkapnya

Minggu, 11 Desember 2016

tabloid bulanan untuk anak-anak TK/PAUD

Tak putus-putusnya Cahaya Foundation, yg baru genap berusia 1 bulan, diberi berbagai amanah maupun kemudahan. Saat ini baru saja dikirim tabloid bulanan untuk anak-anak TK/PAUD dari seorang donatur di Tambun.
Alhamdulillah...


jkhj
Selengkapnya

Donasi sarung

Kali ini, di jum'at yang barokah ini, Cahaya Foundation mendapat kiriman sarung via jasa kurir untuk anak-anak binaan dari entah siapa pengirimnya.
Alhamdulillah, barokah selalu untuk pengirim dan kita semuanya...
============================

Selengkapnya

Donasi seperangkat baju koko, mukena dll

Kalo jum'at kemarin Cahaya Foundation mendapat paket kiriman 1 dus sarung untuk anak-anak binaan via jasa kurir dari entah siapa pengirimnya, hari sabtu ini ternyata mendapat berkah lagi berupa kiriman seperangkat baju koko, mukena, buku Iqro' & Kitab Suci Al Qur'an.
Alhamdulillah....
============================

Selengkapnya

Selasa, 22 November 2016

Donasi Buku Iqro untuk TPA Kampung Bulak Macan

Alhamdulillah 50 buah buku iqro' dari donatur untuk TPA Kampung Bulak Macan, Harapan Jaya, Bekasi Utara sudah sampai ke Cahaya Foundation.


Terima kasih yg sebesar-besarnya kami haturkan. Semoga buku ini bisa bermanfaat untuk anak-anak di TPA. Aamiin...
Selengkapnya

Senin, 10 Oktober 2016

Sedekah Mobil

"Assalamualaikum.. mazeko.. sy cerita dikit gpp ya.. Sy ada mbl pick up rncananya mau dijual.. uang'y mo di sedekahin.. tp berhubung blm laku2 sy blm bs laksanain...maaf sy mo mnt pndpat baiknya gmn?sy serahin aj mbl'y?tp maaf klo ngeropotin ya... trserah deh mau dijual atau digunakan yg bermanfaat... Y cm maaf kondisi mbl nya yaa.. maklum mbl tua da gitu jarang dipake.. Sy tlp aj ya", demikian pesan yg masuk ke Whatsapp saya pada Rabu setelah subuh tanggal 5 Oktober 2016 kemarin. Selanjutnya kami komunikasi via seluler untuk beberapa menit dan terakhir disebutkan sebuah alamat lengkap yg saya cukup hapal wilayahnya.

Ditemani jeng Eka Diah Purwanti & bang Wahyu Din, pada hari Minggu siang kemarin, jalanlah kami ke tekape, di sekitar daerah Bintara, Kota Bekasi. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan posisi tepat titik koordinat si "Angel" ini, sebut saja namanya seperti itu, karena yg bersangkutan minta namanya dirahasiakan. Persis seperti pesan singkat di henpon saya, terlihat sesosok berbadan langsing, berpostur tinggi, mengenakan baju garis-garis biru putih horizontal, telah menunggu di pinggir jalan. Saya parkirkan kendaraan di sebuah tanah kosong di sisi kiri jalan.

"Assalamu'alaikum…", sapa saya.

"Wa'alaikumsalam... Mari langsung ke rumah aja.", sahut pemilik wajah yg datar dan tenang, dengan sorot mata yg sangat optimis itu.

Kami mengikuti langkah kakinya. Tempat tinggalnya ada di dalam gang, di seberang kebun kosong tempat kendaraan kami diparkir. Sebuah rumah petak dengan sistem sewa bulanan. Di depan kontrakannya ternampak sebuah sepeda motor dengan sebuah payung lebar dan kotak kayu seperti kotak pedagang siomay di jok belakang.

"Ini kenalkan kawan-kawan saya, Eka dan bang Wahyu.", saya mengenalkan.

“Oh..iya, mari, silahkan masuk.", Ujarnya sambil membuka pintu rumahnya, yg menurut pengakuannya gak pernah dikunci.

Kami masuk ke dalam rumahnya yg berukuran sekitar 3x7 m, yg terdiri dari ruang depan, ruang tengah, dan kamar mandi. Ruang depan, yg sekaligus merangkap sebagai ruang tamu dan ruang tidur, dihiasi sebuah lemari container plastik 3 susun. Tempat yg kami duduki pun hanya beralaskan selembar matras plastik yg juga digunakan oleh si pemilik rumah untuk mengistirahat badannya di malam hari. Sejak awal mula duduk saya cuma terbengong-bengong.

"Ini, silahkan air minumnya.", kata sang tuan rumah.

Sambil tergeragap dari kebengongan saya berujar, "Ooohh..iya... Gak perlu repot-repot". Selanjutnya jeng Eka mulai ngobrol dengan tuan rumah, sedangkan saya semakin hanyut dalam kebengongan.

"Angel" ini usianya saya taksir sekitar 45 tahun. Ketika ditanya jeng Eka tentang pekerjaan utamanya, sambil menunjuk motor yg terparkir di depan, dia menjawab bahwa dia sehari-hari berjualan makanan di depan sebuah sekolah di sekitar Bintara, Bekasi Barat.


Dulu, katanya, pernah punya usaha penyewaan tenda untuk pesta yg cukup lumayan. Tapi entah kenapa sekarang ini sudah gak berlanjut. Peninggalan usaha yg tersisa ya cuma mobil pick up itu.

"Jadi mobil itu saya sedekahkan. Cuma sebuah Daihatsu Espass Pick Up keluaran tahun 2003. Silahkan digunakan apabila itu memang bisa dimanfaatkan. Atau silahkan dijual yg uangnya nanti bisa digunakan untuk hal-hal yg bermanfaat.", ujarnya.

Saya makin melongo, antara percaya gak percaya, antara berada di dunia nyata atau sedang diajak take action di sinetron.

"Kenapa kok disedekahin?", gumam saya yg masih bengong.

"Ya saya pengennya disedekahin. Kalo ditanya alasannya, ya buat disedekahin. Udah gitu aja.", jawabnya sambil menyerahkan kunci mobil, STNK dan BPKB, yg saya cocokkan dengan KTPnya tembus, sama persis.

Dzig! Dzig! Saya seperti di-Doobal Dangsang Chagi sama si Shoultan Rafi, pelatih taekwondo di Rumah Madani. Sangat telak! Serempak rambut di tengkuk, tangan, dan kaki saya berdiri semua. Asli Merinding!

Kalo dipikir-pikir, seumpama mobil itu dijual, uangnya sangat lebih dari cukup untuk bikin usaha yg lebih besar. Kalo pun gak dijual, minimal disewain aja, ada passive income yg juga bisa didapat. Gak ngerti gimana cara berpikirnya.

Di tempat itu, di hari Minggu siang kemarin, saya seperti diberi sebuah pelajaran yg sangat berharga, yg masih sangat sulit bagi saya untuk mencernanya. Saya dituntun untuk melihat suatu kekuatan dibalik kesederhanaan. Saya ditunjukkan secara langsung dengan kasat mata sebuah keteguhan yang menghasilkan kesabaran. "Angel" dipilih Allah untuk mengajari saya sebuah pelajaran yg di luar nalar, yg saya sendiri belum sanggup untuk menjalaninya.

Mudah-mudahan sedekahmu bisa sangat bermanfaat dan bisa dimanfaatkan untuk membantu orang banyak, "Angel". Gak banyak kata yg terucap dari kerongkongan ini selain sebait kata sederhana, ALHAMDULILLAH, JAZAKILLAH KHOIRON.
Selengkapnya