Rabu, 24 Januari 2018

Mengunjungi Frans Diego


JAKARTA -- Perjalanan hidup Frans Diego (36 tahun) dalam menjalani hari-harinya sebagai penyintas Myasthenia Gravis, salah satu penyakit autoimun yang cukup berat dan langka, merupakan sebuah kisah yang cukup menginspirasi. 14 tahun sudah Myasthenia Gravis bersemayam di tubuhnya. Ruangan-ruangan berbagai Rumah Sakit sudah sangat dihapalnya dan berbagai macam obat sudah seperti menjadi menu kesehariannya.

"Saat itu sama sekali nggak tahu apa itu Myasthenia Gravis. Namanya pun sangat asing bagi saya. Yang saya rasakan di awal-awal, salah satu kelopak mata saya menutup dan setiap kali makan selalu tersedak", tutur Frans, kepada Eka Diah Purwanti, salah seorang founder Cahaya Foundation, yang juga penyintas Myasthenia Gravis, saat sharing dan berkesempatan berkunjung ketika sama-sama dirawat di Rumah Sakit Pendidikan Terbesar di Indonesia, pada Rabu (3/1) yang lalu.

Frans pertama kali berobat ke bagian poli mata di Rumah Sakit Umum Daerah di Jakarta Timur pada pertengahan tahun 2004. Oleh dokter spesialis mata yang menangani saat itu, Frans diduga menderita Myasthenia Gravis dan dioper ke dokter spesialis syaraf untuk memastikan jenis penyakitnya. Dokter syaraf yang menangani segera membuat rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat yang paling lengkap peralatannya untuk menjalani tes Elektromiografi (EMG), yaitu teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot skeletal.

EMG merupakan tes penting yang digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf dan sering digunakan untuk mengevaluasi kelainan sistem saraf periferal. Elektromiografi mencakup penyisipan elektroda pin (jarum halus) melalui kulit dan masuk ke dalam jaringan otot, kemudian aktivitas listrik otot direkam pada komputer. Hasil tes ini memungkinkan ahli saraf mendiagnosis setiap aktifitas otot atau saraf yang abnormal. Tes ini membantu membedakan antara akar saraf dan penyakit otot.

Setelah hasil EMG diketahui, yang menyatakan tegaknya diagnosis Myasthenia Gravis, selanjutnya Frans menjalani kontrol pengobatan rutin dan dikembalikan ke Rumah Sakit Umum Daerah yang sedari awal menanganinya.

Berdasarkan hasil CTScan Thorax dengan Kontras pada tahun 2007, ditemukan thymoma yaitu tumor atau pembesaran pada kelenjar timus, kelenjar yang terletak di mediastinum anterior (daerah antara paru-paru di dada) yang memainkan peran penting dalam perkembangan sel-sel imun.

Timus dapat diangkat sebagai salah satu treatmen dari Myasthenia Gravis dengan harapan dapat meningkatkan kesempatan remisi (hilangnya gejala dan tidak diperlukan konsumsi obat-obatan) dari penyakit tersebut. Diperkirakan beberapa pasien yang melakukan pengangkatan timus dapat mengurangi produksi antibodi yang menyerang nerve-muscle junction (sambungan antara syaraf dan otot), yang menyebabkan penyakit ini.

Awal 2008 dijadwalkan untuk tindakan thymectomy, yaitu prosedur bedah atau operasi besar untuk pengangkatan timus di Rumah Sakit Kanker terkemuka di Jakarta. "Paska thymectomy, saya gagal napas sehingga harus ditrakeostomi (leher dilubangi) untuk alat ventilator. Saya dirawat dan harus menggunakan ventilator selama 5 bulan", lanjut Frans.

Akan tetapi, paska dirawat dengan menggunakan ventilator tersebut, alat trakeos yang terpasang tidak langsung diangkat. Diduga hal inilah yang menjadi sumber masalah, karena setelahnya Frans sering mengalami infeksi paru secara berulang. Setiap tahun sampai 2-3 kali harus dirawat di Rumah Sakit, dengan rata-rata perawatan 1-3 bulan.

Frans juga pernah mengalami fase lumpuh selama 1 tahun lebih; 143 hari dirawat di ICU dan 7 bulan dalam perawatan di bangsal rawat inap. Pada 2017 kemarin kondisi semakin memburuk. Dokter Paru mengatakan bahwa paru-paru Frans sudah rusak permanen, sehingga ia harus menggunakan oksigen selama 24 jam, dan bantal harus ditinggikan saat tidur.

Januari hingga Juni 2017 dirawat. November sampai Januari ini juga masih dirawat. Yang paling memperburuk kondisinya justru dari infeksi Myasthenia Gravis-nya itu sendiri. Banyak obat-obatan yang tidak cocok untuk Myasthenia Gravis, dan justru memperburuk kondisinya, padahal obat-obatan tersebut justru yang bagus untuk pengobatan infeksinya.

Pembiayaan sejak awal menjalani pengobatannya, Frans terpaksa membayarnya secara tunai, dikarenakan saat itu belum ada jaminan kesehatan dari pemerintah untuk seluruh lapisan masyarakat, sehingga hampir semua harta benda yang dimiliki, seperti rumah, tanah dan mobil, terpaksa dijual. Usaha playstation yang dimilikinya pun terpaksa ditutup. Seringnya keluar masuk dan rawat inap di Rumah Sakit menyebabkan usahanya terbengkalai dan harus gulung tikar.

Di saat segala harta benda yang dimilikinya sudah betul-betul habis-habisan untuk membiayai pengobatan dirinya, beruntung di akhir tahun 2012, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta memberikan Kartu Jakarta Sehat (KJS), yang merupakan kelanjutan dari Kartu Keluarga Miskin (Kartu Gakin), untuk Layanan Jaminan Kesehatan secara gratis bagi dirinya.

Di akhir 2013, saat pemerintah pusat menerbitkan Kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), Frans mendaftar dan mulai menggunakan BPJS Kesehatan Mandiri kelas 1 untuk jaminan pengobatannya. Seiring dengan peraturan baru BPJS Kesehatan yang mewajibkan pembayaran iuran harus per Kartu Keluarga, Frans tidak sanggup membayar iuran BPJS Kesehatan tersebut, sehingga kembali menggunakan KJS.

Pengalaman hidup Frans yang tidak pernah menyerah pada keadaan, selalu berikhtiar/berusaha semaksimal mungkin dalam segala hal, dan selalu berdoa memohon bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dengan keyakinannya, serta selalu berpikir positif dan sabar dalam menjalani suatu proses, menjadikannya tetap tegar hingga saat ini. Usaha sudah dilakukan secara maksimal, doa pun sudah dipanjatkan tak pernah putus, maka selanjutnya, biarkan takdir yang bertarung di langit. (Cahaya Foundation / EDP)

#CahayaFoundation #Sharing #Caring #MyastheniaGravis #Jakarta #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Senin, 22 Januari 2018

Keluarga Bahagiakan Lansia




KOTA BEKASI -- Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Banyak dijumpai pengalaman bahwa justru di masa tua lah seseorang seperti tercerabut dari hiruk pikuk ramainya kehidupan. Tugas bagi mereka yang masih berada dalam usia produktif lah untuk membuat para lansia berbahagia dan tidak merasa kesepian. 

Kesepian, menurut penelitian John Cacioppo, profesor psikologi dari University of Chicago, Amerika Serikat, merupakan penyebab utama kematian bagi orang lanjut usia dengan usia 60 tahun ke atas. Bahkan secara umum, prosentasenya mencapai 14 persen dari penyebab kematian lain. Di usia senja, orang tua cenderung memiliki perasaan terisolasi dari orang lain, yang kemudian akan menyebabkan berbagai gangguan fisik, seperti gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, peningkatan hormon stres, gangguan pada sel-sel imun dan meningkatkan depresi.

Pada kesempatan di pagi hari Minggu (21/1), Cahaya Foundation mendapat amanah, berupa titipan kebahagiaan untuk disampaikan kepada 50 orang lansia dhuafa yang sudah terdata di sekitar wilayah Bekasi Jaya, Bekasi Timur dan Marga Mulya, Bekasi Utara, dua wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai besar yang membelah Kota Bekasi.

Dengan tema kegiatan; "Keluarga Bahagiakan Lansia", yang mana para relawan yang ikut terlibat sebagian besar adalah para keluarga, yang terdiri dari pasangan suami istri dengan membawa serta anak-anak mereka. Mengunjungi langsung ke rumah-rumah para lansia penerima manfaat berdasarkan data yang sudah disediakan. Seakan-akan mereka sedang berkunjung ke rumah kakek nenek mereka pada saat libur sekolah. 

"Kegiatan seperti ini sangat seru dan asyik. Sebuah solusi alternatif mengalihkan mindset anak-anak dari mall kepada kegiatan yang lebih edukatif, riil dan bermanfaat. Memanusiakan dan memuliakan lansia akan menumbuhkan mindset anak-anak agar lebih sayang kepada orangtua", tegas Rahmi Primaswari, salah seorang relawan yang membawa serta suami dan kedua buah hatinya.

Wiwik Rahayu, koordinator kegiatan mengatakan, bahwa kegiatan tersebut sengaja dikemas sedemikian rupa agar antara relawan yang berbagi dengan para lansia penerima manfaat terjalin ikatan emosional yang kuat. "Sengaja setiap relawan, beserta keluarga yang dibawanya, door to door langsung membawa bingkisan ke rumah-rumah para lansia yang sudah terdata, mengunjungi, bersilaturahmi, ngobrol banyak hal, tertawa dan menangis bersama bagaikan keluarga yang sudah lama tidak pernah bertemu, agar terjalin chemistry yang kuat antara relawan dengan kakek nenek yang kita santuni", paparnya.

Berbagi kebahagiaan yang paling dasar dan mudah adalah dengan memberi perhatian dan senyum, karena perhatian dan senyum dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, dan memudahkan orang saat berinteraksi.  Perhatian dan senyum adalah cara paling murah untuk mendatangkan berkah. Perhatian dan senyum itu dapat menular, seperti halnya perbuatan baik lainnya. (Cahaya Foundation / Donna Aristhea)

#CahayaFoundation #Keluarga #Berbagi #Bahagia #Lansia #Dhuafa #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia

Selengkapnya

Jumat, 19 Januari 2018

Sedekah Makan Siang Jum'at Berbagi





Siang selepas ibadah shalat Jum'at, kantor Cahaya Foundation yang berada persis di belakang RS Mekarsari Bekasi mendapat kiriman beberapa puluh kotak nasi dari sebuah Rumah Makan yang dipesan oleh seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai Hamba Allah. "Ada titipan sedekah makan siang untuk dibagikan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung", ujar kurir dari rumah makan tersebut. Dari tampilan wadahnya, isi kotaknya sepertinya cukup istimewa dan samar-samar aroma yang menguar dari dalamnya sangat menggugah selera. 

Sasaran penyebaran sudah ditentukan. Lokasi tidak jauh dari kantor Cahaya Foundation, di sekitar Jalan KH Agus Salim dan Jalan Ki Mangunsarkoro, yang kebetulan banyak dijumpai bapak-bapak pengemudi becak dan beberapa orang pemulung yang kerap kali melintas mencari nafkah. 

Dengan menggunakan 1 buah sepeda motor, pendistribusian sedekah makan siang cukup dilakukan oleh 2 orang saja yang menyebarkan. Salah seorang mengemudikan kendaraan, sedangkan salah seorang yang lainnya membawa 2 kantong plastik besar kotak nasi di kiri kanan tangannya. Cuma dalam waktu tidak lebih dari 1 jam dan cukup 3 kali bolak balik mengambil untuk kemudian didistribusikan, maka selesai sudah kegiatan sedekah makan siang dilakukan. 

Teringat sebuah kisah tentang sedekah makan siang di hari Jum’at  yang pernah ada di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Disebutkan dalam Shahihain, dari Abu Hazim Radhiyallahu 'Anhu, dari Sahal Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Kami sangat gembira bila tiba hari Jum’at.” Saya (Abu Hazim) bertanya kepada Sahal: “Mengapa demikian?” Jawabnya:  “Ada seorang nenek tua yang pergi ke Budha’ah -sebuah kebun di Madinah- untuk mengambil ubi dan memasaknya di sebuah periuk dan juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at, kami pergi dan mengucapkan salam padanya lalu dia akan menyuguhkan (makanan tersebut) untuk kami. Itulah sebabnya kami sangat gembira. Tidaklah kami tidur siang dan makan siang kecuali setelah jumat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kegiatan sedekah makan siang di hari Jum'at kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung ini bisa menjadi sarana untuk membangun rasa empati/kepedulian kepada sesama dan sebuah terapi untuk melunakkan kekerasan hati pada diri kita yang kerap tidak kita sadari. Kegiatan yang sederhana dan relatif murah, karena disesuaikan dengan kemampuan kita dan bisa dilakukan di sekitar kantor atau tempat tinggal kita di waktu istirahat setelah shalat Jum'at.

Sedekah makan siang bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yaitu para fuqoro’ dan masakin, adalah salah satu amal kebaikan yang sangat dicintai Allah. Kegiatan sosial ini akan semakin berkah karena bisa menjadi sebab mempererat tali ukhuwah dan membahagiakan orang-orang susah. Lebih-lebih bisa dijadikan sarana menyampaikan dakwah dan nasihat; sehingga jasmani dan rohani sama-sama dapat nutrisi. (Cahaya Foundation / Wiwik)

#CahayaFoundation #Berkah #Jumat #Donasi #Sedekah #Berbagi #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Rabu, 10 Januari 2018

Kado Berharga Untuk Ibu Sri

KOTA BEKASI -- "Di pagi itu ibu berteriak, katanya kakinya tidak bisa digerakkan, badannya terasa separuh lemas. Setelah diperiksa di RSUD Kota Bekasi, dokter poli eksekutif yang menangani ibu saat itu langsung bilang bahwa ibu kena serangan Stroke yang pertama", tutur Linda, putri ibu Sri Sumarni (65), saat mengawali ceritanya tentang kejadian 4 tahun silam. Saat itu ibu Sri sempat dirawat di ruang Anggrek selama 10 hari, kemudian diperbolehkan pulang setelah kondisi fisiknya dinyatakan cukup stabil.

Setelah kejadian tersebut, ibu Sri mendapat bantuan dari banyak muridnya semasa mengajar di SMAN 1 Bekasi, yang sebagian besar digunakan untuk menjalani terapi dan membeli kursi roda. Dalam waktu kurang dari 3 bulan ibu Sri bisa beraktifitas kembali, sudah bisa berjalan seperti sebelum sakitnya. 

"Sekitar tahun 2016 lalu, pergelangan kaki ibu luka dan bengkak akibat dipijat terlalu keras. Saat itu dibawa ke dokter praktek di sekitar rumah dan diberi obat. Ternyata antibiotik yang diberikan terlalu keras, sehingga menyebabkan ibu justru keracunan antibiotik. Ibu gak bisa bangun, kena asam lambungnya sehingga lebih sulit mengobatinya. Hingga saat ini keadaannya seperti itu", kembali Linda berkisah.


Relawan Pendamping Cahaya Foundation tiba di kediamannya, di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Selasa (9/1) dalam kesempatan penyerahan titipan donasi tempat tidur pasien 3 engkol dari PT Buancitra Sejati Jaya Makassar. Bersama suami tercinta yang selalu mendampingi, ibu Sri merasa sangat bersuka cita atas ketibaan tempat tidur pasien yang sudah dinantikannya. "Alhamdulillah, sangat bermanfaat untuk istri saya", tegas suami beliau.

"Sebenarnya kabar ibu diberikan tempat tidur ini, saat itu November hari ultah ibu. Pas Cahaya Foundation datang dan undangan Reuni Perak Alumni SMAN 1 Bekasi Angkatan 1992 itu. Ini adalah hadiah berharga buat ibu. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang diberikan oleh kakak-kakak alumni, juga owner PT Buancitra Sejati Jaya Makassar atas sumbangan tempat tidurnya yang dititipkan melalui Cahaya Foundation.  Minta do'anya agar ibu kembali pulih dan panjang umur yang barokah serta bisa aktivitas kembali. Atas nama keluarga, tak hentinya mengucap syukur alhamdulillah atas perhatian yang diberikan kakak-kakak alumni SMAN 1 Bekasi,  SMA PGRI 1 Bekasi, yang tanpa henti dan tanpa putus mengasihi ibu. Allah yang akan membalasnya. Semoga kita semua diberi kesehatan. Aamiin...", pungkas Linda menambahkan.


Ternyata ibu Sri mengalami perjalanan panjang dalam menerima ujian dari Allah. Tahun 1995 terdiagnosa Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi. Saat bersama keluarga berlibur ke Yogyakarta, pernah juga dirawat di RS Panti Nugroho Yogyakarta akibat anfal karena gula darah mendadak diatas 400 mg/Dl. Setelahnya sering kali bolak balik dirawat di RS Islam Cempaka Putih Jakarta akibat kondisi yang sama.

Karena penyakitnya itu, ibu Sri justru menemukan obat herbal untuk penyakitnya, yaitu Jus Mengkudu, sehingga bisa memproduksi sendiri dan terdistribusi di seluruh apotek di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bali di tahun 1999. Lagi-lagi cobaan datang menghampiri. Usaha yang dirintis sejak awal tersebut pada akhirnya gulung tikar karena dimanipulasi oleh orang kepercayaan yang selama ini mengelola usaha tersebut. Saat itu ibu Sri sudah menjadi Kepala Sekolah di SMA Pangeran Jayakarta Bekasi dan menjadi dosen di STKIP. 

Kembali di tahun 2006 ibu Sri diuji. Kerjasama usaha yang dirintisnya musnah dalam sekejap, sehingga modal usaha senilai 400 juta rupiah dibawa lari mitra usaha dan seluruh aset yang dimiliki berupa rumah dan tanah berpindah tangan, dengan total kerugian sebesar 2 miliar rupiah saat itu. Proses sidang secara marathon pernah dijalani hingga ke Mahkamah Agung, namun sayangnya justru dinyatakan kalah di tahun 2012. Setelahnya, masih diuji kembali, yaitu kendaraan mereka pun digelapkan oleh tetangga sendiri.

Masih di tahun 2012, ibu Sri kembali anfal, dan dilarikan ke salah sebuah RS swasta terdekat. Karena kurang baik penanganannya, keluarga memutuskan untuk dipindah ke RSUD Kota Bekasi, dengan diagnosa ada abses pada paru-parunya. Sekitar 1,5 liter nanah berhasil disedot saat itu juga.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, garasi rumahnya disulap menjadi sebuah usaha warung kelontong yang dikelola sang suami. Pahit manisnya kehidupan yang dijalani sudah diserahkan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Takdir. Hanya keikhlasan dan kepasrahan secara total kepada Allah lah yang menyebabkan ibu Sri masih dapat menjalani lelakon peran hidupnya hingga saat ini. (Cahaya Foundation / Junaedi)

#HospitalBed #Donasi #Jabodetabek #Bekasi #Makassar #Indonesia

Selengkapnya

Minggu, 07 Januari 2018

Dari Cibarusah ke RS Jantung Harapan Kita (Pendampingan Dede Hade, Bayi 10 Bulan Penderita Jantung Bocor)


JAKARTA -- Semua orangtua pasti menginginkan buah hati, yang merupakan darah daging kesayangan, lahir dan tumbuh berkembang dalam keadaan sehat dan normal, tak kurang suatu apa pun. Sejak awal berada dalam kandungan selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Berbagai vitamin dan asupan gizi terbaik bagi sang ibu pun diberikan dalam porsi lebih sempurna dibanding kondisi saat tidak hamil.

Begitu pula dengan pasangan Hans Nurdiansyah dan Yuliani yang tinggal di Cibarusah, nun di sudut sebelah selatan Kabupaten Bekasi ini. Hans bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan swasta di sebuah kawasan industri di bilangan Cikarang, Kabupaten Bekasi, sedangkan istrinya Yuliani mengurus rumah tangga dan anak pertama mereka. Saat kehamilan anak yang kedua memasuki usia 8 bulan, Yuliani yang mengidap salah satu jenis penyakit autoimun yang bernama Myasthenia Gravis ini, mengalami krisis miastenik, yaitu kondisi dimana pasien Myasthenia Gravis mengalami sesak nafas yang disertai batuk dan flu. Dokter RSUP Hasan Sadikin Bandung yang selama ini menanganinya, memeriksa kondisi kandungannya dan menyarankan untuk segera melahirkan secara caesar, karena dikhawatirkan akan mengalami resiko yang buruk terhadap ibu dan janin. 

Pada 20 Maret 2017, lahirlah anak kedua mereka, laki-laki, dengan panjang 47 Cm dan berat badan 2,25 Kg, diberi nama Ahmad Sulaiman Hade. Dede Hade, demikian anak kedua mereka itu dipanggil, lahir dalam keadaan kuning. Pasca melahirkan, sang ibu harus dirawat di ruang ICU selama 5 hari, terpisah dengan Dede Hade. selang 5 hari kemudian barulah Dede Hade bertemu dengan ibunya.

Saat Dede Hade kontrol untuk pertama kalinya, dokter menyatakan bahwa Dede Hade mengalami kelainan pada jantungnya. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dr. Rahmat Budi Sp.A(K) yang menangani Dede Hade menyatakan bahwa ia mengalami Ventricular Septal Defect, yang dalam bahasa medis biasa disingkat dengan VSD, atau bahasa awamnya disebut kebocoran bilik jantung. VSD merupakan kelainan jantung bawaan berupa lubang di dinding pemisah (septum) antara bilik kanan dan bilik kiri jantung. Pada kebanyakan kasus, VSD muncul di bagian bawah katup aorta. Katup ini berfungsi mengontrol aliran darah dari bilik kiri ke pembuluh darah arteri utama dalam tubuh, yaitu aorta.

VSD menyebabkan darah yang kaya oksigen tidak dipompa ke seluruh tubuh, melainkan masuk kembali ke paru-paru. Akibatnya, kerja jantung menjadi lebih berat. Kelainan anatomi jantung ini pada umumnya merupakan kelainan bawaan yang didapat sejak lahir. Jika berukuran kecil, VSD dapat menutup dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Namun jika berukuran besar, lubang ini harus ditutup melalui operasi.

Dalam kondisi normal, darah dipompa dari jantung bagian kanan menuju ke paru-paru untuk mendapatkan oksigen, dan masuk kembali ke jantung bagian kiri. Kemudian jantung bagian kiri bertugas memompa darah yang kaya oksigen tersebut ke seluruh tubuh. Adanya defek septum ventrikel menyebabkan darah dari bilik kiri jantung yang kaya oksigen bercampur dengan darah di bilik kanan jantung yang belum teroksigenisasi. Hal ini memaksa jantung, baik bagian kanan maupun bagian kiri, untuk bekerja lebih keras.

Pada kasus Dede Hade ini, terdapat 2 buah lubang berukuran sekitar 2 milimeter pada jantungnya, dan oleh dokter disarankan untuk dilakukan tindakan bedah, akan tetapi tidak bisa dilakukan di RSUP Hasan Sadikin Bandung, dikarenakan ada beberapa keterbatasan, yang kemudian Dede Hade dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta. Dikarenakan peraturan BPJS mengharuskan mekanisme rujukan berjenjang, maka Dede Hade dibawa terlebih dahulu ke RSUD Kota Bekasi untuk dimintakan rujukan. 

Rabu 3 Januari 2018, setelah sebelumnya pihak keluarga meminta pendampingan, Dede Hade diantar oleh Cahaya Foundation untuk berobat ke RS Jantung Harapan Kita, bertemu dengan dr. Poppy Surwianti Roebiono Sp.JP(K)FIHA dan melakukan serangkaian pemeriksaan, yang meliputi EKG, Rontgen dan ECHO. Dr. Poppy menyatakan hal yang sama dengan dr. Rahmat, akan tetapi dinyatakan bahwa untuk penyakit Dede Hade belum dapat dilakukan tindakan operasi. Diharapkan selama pertumbuhan Dede Hade lubang di jantung bisa menutup dengan sendirinya. Dr. Poppy mengatakan bahwa beliau akan diskusi dengan team terlebih dahulu, dan selama menunggu hasil diskusi, Dede Hade diminta untuk kontrol kembali pada bulan Mei 2018 nanti.

#CahayaFoundation #Pendampingan #Advokasi #CareGivers #Pasien #Bayi #Jantung #Bekasi #Jakarta #JaBoDeTaBek #Indonesia

Selengkapnya

Jumat, 05 Januari 2018

Ada Panasbung Di RSUD Kota Bekasi

BEKASI KOTA -- "Eka, komunitas gue, PPMI, bisa nitip nyebarin nasi bungkus ya.... Ada titipan 150 bungkus nih buat besok pas jam makan siang. Terserah mau disebar kemana aja boleh yang penting bisa bermanfaat buat yang betul-betul butuhin. Tapi gue gak bisa ikut nih, maklum jadwal syuting padat merayap...bla bla bla...", demikian isi pesan singkat yang tidak terlalu singkat pada aplikasi media sosial di perangkat seluler milik Eka Diah Purwanti, Kepala Divisi Kesehatan Cahaya Foundation, pada malam tadi.

Pagi tadi, Eka menyebarkan informasi tersebut ke segenap jajaran Pasukan Nasi Bungkus-nya, yang segera direspon dengan penuh suka cita, terlihat 3 orang Pasukan Nasi Bungkus Cahaya Foundation sudah menyatakan stand by di lokasi yang ditentukan, yaitu Ruang Rawat Inap kelas 3 RSUD Kota Bekasi. 

Jam 10 pagi tadi, kurir penjemput bergerak ke alamat rumah si pemberi informasi untuk menjemput rizki jum'at bagi saudara-saudara kita yang memang membutuhkan. Setiba di alamat yang dituju, tak memakan waktu lama, semua titipan segera dibawa. Sasaran pada Jum'at minggu ini adalah para penunggu pasien di ruang rawat inap Kelas 3 di RSUD Kota Bekasi, dengan terlebih dahulu menelepon pihak Rumah Sakit meminta izin untuk membagikan nasi bungkus bagi penunggu pasien di ruang rawat inap Kelas 3 Rumah sakit tersebut.






1 jam kemudian, titipan sudah tiba di RSUD Kota Bekasi. Pasukan Nasi Bungkus, yang semuanya srikandi bermasker segera bergerak cepat, berbagi tugas dan sasaran. Masing-masing membawa 4 kantong plastik besar berisi 40 buah kotak nasi. Walaupun mereka semua perempuan, tapi gerak mereka sangat sigap, cepat dan cekatan, seperti sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Ruangan demi ruangan dimasuki. Sambil membagikan nasi kotak, mereka berbincang-bincang dengan pasien mengenai kondisi sakitnya. Berempati dan memberi semangat untuk menguatkan mental mereka agar selalu tegar dalam menghadapi cobaan.

Bertepatan dengan selesainya sholat Jum'at, semua titipan sudah selesai ditunaikan. Ada rasa bahagia manakala menyaksikan para penunggu pasien ruang rawat inap kelas 3 itu menikmati nasi kotak yang telah mereka terima. Wujudnya memang cuma nasi kotak. Harganya pun mungkin tak seberapa. Tapi bagi mereka yang memang membutuhkan saat itu, mungkin bisa jadi seperti barang mewah, juga merupakan bantuan yang simpel tetapi dibutuhkan dan bisa diterima siapa pun.

Tempo hari ada sahabat yang pernah berpesan, "Apapun yang dititipkan/diamanahkan, wajib segera ditunaikan apabila kita sudah menyanggupinya, sesuai dengan kemampuan kita. Yang terpenting, jangan pernah bosan untuk selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama, sekecil apapun bentuknya. Mumpung kita masih hidup." 

#CahayaFoundation #Panasbung #JumatBerbagi #JumatBerkah #RSUDKotaBekasi #Bekasi #Jabodetabek #Indonesia
Selengkapnya

Senin, 01 Januari 2018

LAPORAN KEGIATAN PERIODE DESEMBER 2017

Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Salam takzim untuk Sahabat semua, semoga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari selalu diberikan SemangArt, kelancaran dan kemudahan.
Aamiin...

Berikut kami sampaikan Laporan Kegiatan Cahaya Foundation untuk Periode Bulan Desember 2017 yang secara bersama-sama kita telah melakukan banyak hal bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang layak dan berkeadilan, 100 buah majalah PAUD untuk bahan ajar dan 2 buah ranjang pasien dengan total manfaat senilai Rp. 83.000.000,-

Perlu Sahabat sekalian ketahui, bahwa pada Bulan Desember 2017 ini, kegiatan kita sudah variatif, selain pendampingan pasien juga ada kegiatan santunan rutin yatim dhuafa, donasi 100 buah majalah PAUD setiap bulannya, kegiatan belajar mengajar dan penyaluran ranjang untuk pasien yang terpaksa harus home care, yang otomatis manfaat kegiatan ini pun semakin luas pula.

Pada Periode Bulan Desember 2017 ini, sebanyak 15 kali pembelaan pendampingan pasien telah kita lakukan, yang terdiri dari 12 kali pendampingan pasien rawat jalan dan 3 kali pendampingan pasien rawat inap, yang mana 1 orang pasien dampingan meninggal dunia akibat penyakit Meningitis TB yang dideritanya. Innalillahi wainnailayhi roji'uun....

Demikian penyampaian Laporan Kegiatan Periode Bulan Desember 2017. Terima kasih atas sepenuh do'a yang tercurah dan segala dukungan yang tak terhingga dari Sahabat sekalian.

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

#CahayaFoundation #Laporan #Kesehatan #Advokasi #CareGivers #Pendampingan #Pasien #MajalahPAUD #RumahBelajar #HospitalBed #RanjangPasien #Jabodetabek #Bekasi #Bengkulu #Padang #Indonesia




Selengkapnya

Minggu, 31 Desember 2017

Dari Cibarusah Ke RSCM (Pendampingan Pasien Myasthenia Gravis, Sulaeman Hanafiah Lubis)

JAKARTA -- Di tahun 2016, Sulaiman Hanafiah Lubis (27 tahun) mulai merasakan lemas di sekujur tangan dan kakinya. Ia mencoba melakukan pengobatan ke Klinik Faskes Tingkat 1 di dekat rumahnya, di Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Beberapa kali berobat ke Klinik tersebut tapi tidak ada tanda-tanda perubahan atas penyakitnya, sehingga pada akhirnya dirujuklah ke RS Siloam Cikarang. Di Rumah Sakit tersebut ia diberi pengobatan dengan Mestinon dengan dosis 2x1 hari, untuk selanjutnya ia dirujuk kembali ke RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk melakukan serangkaian test guna tegaknya diagnosa atas penyakit yang dideritanya.

Awal tahun 2017, Sulaiman mulai menjalani pengobatan ke RSCM. Setelah menjalani test EMG, dokter menyatakan bahwa ia menderita Myasthenia Gravis, dan selanjutnya diberi obat Mestinon dengan dosis 3x1 hari.

Sebagai buruh di salah sebuah pabrik di wilayah Kawasan Industri Lippo Cikarang, tentunya aktifitas kerjanya terbilang cukup melelahkan, apalagi ditambah dengan kondisinya sebagai penyandang penyakit Myasthenia Gravis. Bulan September 2017, Sulaiman mulai mengalami sesak nafas dan suara yang berubah sengau. Kondisi tersebut disampaikannya saat ia kontrol rutin ke RSCM, sehingga dokter menaikkan dosis Mestinon menjadi 5x1 hari, disertai obat-obatan lain sebagai penunjang kondisi tubuhnya.

Pada bulan November 2017, ia minta pendampingan dari Cahaya Foundation dikarenakan Krisis Miastenik yang menyerangnya, yang menyebabkannya terpaksa harus masuk UGD RSCM. Krisis Miastenik merupakan keadaan gawat darurat, yang mana pengobatannya meliputi perawatan di ruangan intensif, alat bantu pernafasan, cairan dan elektrolit, dan pencegahan atau penanganan infeksi.   

3 hari Sulaiman mendapat perawatan di ruang ICU dan kemudian 2 minggu menjalani rawat inap, selanjutnya dokter menyarankan untuk melakukan Plasmapheresis. Plasmapheresis adalah proses pemisahan sel-sel darah dengan plasma. Plasma yang telah dipisahkan akan diganti dengan pengganti plasma (terjadi pertukaran plasma). Tujuan dari tindakan ini adalah untuk membuang antibodi yang ada di plasma, dan menggantinya dengan yang baru, dengan demikian diharapkan antibodi yang menyebabkan Myasthenia Gravis dapat hilang, atau minimal bisa dikurangi secara signifikan.

Prosedur Plasmapheresis ini biasanya berlangsung sekitar 1-3 jam setiap kali tindakan, tergantung berat, tinggi, dan jumlah plasma yang diganti. Seberapa sering atau frekuensi berapa kali dilakukan Plasmapheresis tergantung hasil pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter. Tindakan Plasmapheresis biasanya memberikan efek yang cepat, dalam beberapa hari dan dapat bertahan hingga 1-2 bulan kemudian. Efek samping yang umum terjadi dari tindakaan ini adalah penurunan tekanan darah, rasa pusing, kedinginan, berkeringat, penglihatan buram atau kram perut.

Setelah 5 kali menjalani Plasmapheresis, Sulaiman akhirnya diizinkan pulang.

Saat kontrol ulang ke RSCM kemarin, Sulaeman masih diberi pendampingan oleh Cahaya Foundation, melakukan konsultasi dengan dokter, dan memintakan surat izin dari dokter selama beberapa hari sehubungan keadaannya yang mulai mengalami sesak napas karena aktifitas pekerjaannya dan pasca Plasmapheresis tersebut.

#CahayaFoundation #Pendampingan #Advokasi #Pasien #MyastheniaGravis #Autoimun #Bekasi #Jakarta #JaBoDeTaBek #Indonesia



Selengkapnya

Minggu, 24 Desember 2017

Ranjang Untuk Pak Sahid


KOTA BEKASI -- Perjalanan hidup manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian dan cobaan. Suatu ketika kita diuji dengan berbagai kenikmatan, seketika diwaktu yang lain kita juga diuji dengan kesulitan. Itulah nikmatnya hidup. Namun, yang pasti segala ujian itu tidaklah melebihi dari batas kemampuan yang kita miliki. 

Adalah bapak Abdul Sahid (66 tahun), seorang pensiunan guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bekasi, sebuah SMA tertua di Bekasi. Sebagai guru olahraga, tubuhnya tentunya bugar sekali. Istri dan anak-anaknya tidak menyangka setelah pensiun justru kondisi kesehatannya menjadi menurun drastis.

Pak Sahid, demikian beliau biasa dipanggil, yang pensiun di tahun 2011 ini, mulai terdiagnosa menderita sakit diabetes di tahun 2013. Dari penyakit diabetesnya ini, ternyata menimbulkan berbagai penyakit lain yang juga dideritanya, seperti Komplikasi Jantung, Ginjal, Mata, Penyakit Dalam, dan Syaraf Kejepit.

Berbagai Rumah Sakit pernah menangani pengobatan penyakitnya, mulai dari RS Mekarsari Bekasi, selanjutnya RSUD Kota Bekasi dan RS Bhakti Kartini Bekasi. Juga pernah 6 kali rawat inap, yaitu 2 kali di RS Budi Lestari selama beberapa hari di tahun 2013 dan 2014, 3 kali di RS Awal Bros Bekasi di tahun 2015 dan 2016, dan 1 kali di RS Fatmawati Jakarta selama 2 minggu di tahun 2017 ini. Kondisi terparah sewaktu tidak sadarkan diri sehingga dilarikan ke RS Awal Bros Bekasi dan harus dirawat selama 1 minggu di ruang ICU, setelahnya 1 minggu dirawat di ruang rawat biasa. 

Efek dari penyakit diabetesnya tersebut, terjadi luka bolong di sekitar paha sekitar 1 tahun yang lalu, yang akhirnya bisa mengering. Pada 3 bulan yang lalu hal yang sama juga dialaminya di bahu kaki kanannya, yang sekarang juga sudah mulai mengering. Saat ini pak Sahid menjalani rawat jalan kontrol rutin di poli dalam/ginjal, poli jantung, poli paru, poli syaraf, poli mata dan fisioterapi di RS Fatmawati Jakarta.


Semangat dan kegigihan pak Sahid melakukan berbagai upaya pengobatan atas penyakitnya serta kesabarannya dalam menghadapi ujian Allah ini menyebabkan Cahaya Foundation tergerak untuk menyalurkan bantuan dari PT Buancitra Sejati Jaya, berupa tempat tidur pasien untuk menjalani perawatan di rumah.  




“Terimakasih PT Buancitra Sejati Jaya dan Cahaya Foundation atas bantuannya, mudah-mudahan dengan adanya tempat tidur ini bapak menjadi lebih nyaman sewaktu menjalani perawatan di rumah dan mudah-mudahan pengobatan yang dilakukan selama ini bisa menyembuhkan penyakit bapak,” tutur ibu Eti, istri pak Sahid. (Cahaya Foundation/Junaedi)

#CahayaFoundation #Donasi #Hibah #Wakaf #PinjamPakai #RanjangPasien #HospitalBed #JaBoDeTaBek #Bekasi #Makassar #Indonesia

Selengkapnya

Kamis, 21 Desember 2017

Santunan Yatim Di Margahayu, Kota Bekasi


KOTA BEKASI -- Al-Qur’an menyebutkan sebanyak 23 kali perkataan 'anak yatim', memerintahkan untuk memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakuan, berkata dengan perkataan yang baik lagi lemah lembut, dan menafkahi mereka, yang pastinya memerlukan perhatian, pembelaan dan tanggung jawab dari kita bersama agar mereka bisa belajar dengan tenang, hidup layak dan bisa bergembira seperti anak-anak lainnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Turmudzi, dan Abu Daud, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya). Dalam hadits tersebut jelas tersurat, sungguh betapa besarnya perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap anak yatim.

Selaras dengan perintah dalam Al-Qur'an, dan yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, keluarga almarhum bapak Rohadi, melalui anak-anaknya, mengundang 30 anak yatim Marga Mulya binaan Cahaya Foundation, dan 20 anak yatim warga sekitar di kediamannya, di bilangan Karang Kitri, Margahayu, Kota Bekasi, Senin (18/12), untuk diberi santunan dan tali kasih.

"Cuma ngundang ngajak makan-makan anak-anak yatim binaan Cahaya Foundation dan anak-anak yatim warga sekitar, sekaligus ngasih santunan dan tali kasih untuk mereka. Sebentuk kecil rasa syukur kami kepada Allah SWT dengan berbagi dan memberi perhatian kepada anak-anak yatim ini", terang putri sulung almarhum bapak Rohadi, Titi Rohati.



Acara santunan ini biasa dilakukan oleh Cahaya Foundation yang bekerjasama dengan donatur secara individu ataupun bersama-sama agar terjalin ikatan emosional yang lebih mendalam antara pemberi santunan dengan penerima santunan. Kegiatan santunan langsung ini merupakan bagian dari program pemberdayaan Cahaya Foundation melalui donasi zakat, infak dan sedekah donatur perorangan. Selain santunan langsung, ada juga beberapa program yang sifatnya berkelanjutan, seperti program pendidikan dan ekonomi.

#CahayaFoundation #Pemberdayaan #Santunan #Yatim #Zakat #Infak #Sedekah #Wakaf #Bekasi #Indonesia
Selengkapnya